NEWS :
Loading...

Terbaru

Maret 30, 2017

Wawali Tomohon Ikut Workshop Pemeriksaan LKPD 2016

Tidak ada komentar
Makassar –

Wakil Walikota Tomohon Syerly Adelyn Sompotan (SAS) didampingi Kepala Badan Keuangan Daerah Drs Gerardus Mogi Rabu, (29/3) menghadiri Workshop dan Entry Meeting Pemeriksaan LKPD Tahun 2016 yang dilaksanakan di Hotel Clarion Makasar Sulawesi Selatan.
Kegiatan yang dilaksanakan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI) Wilayah Timur, dibuka Prof Dr Bahrullah Akbar MBA sekaligus pembawa materi. Dalam pemaparannya, Bahrulah Akbar mengatakan tujuan kegiatan ini adalah untuk memberi pembekalan dan persamaan persepsi terhadap LKPD  terhadap pemeriksaan entry BPK- RI, juga merupakan agenda tetap dalam mengaudit laporan keuangan daerah dengan visi misi untuk menyempurnakan beberapa ketentuan dan peraturan yang telah diatur, mendorong pemerintah daerah untuk lebih meningkatkan transparansi serta akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah dan penyajian sistem akuntansi berbasis aktual.


Wawali SAS didampingi Gerardus Mogi, Kepala Badan Keuangan Daerah.
Kata dia, semua proses tersebut dilakukan secara berjenjang dan kewajiban bagi pemerintah daerah menerbitkan LKPD merupakan amanah berdasarkan pasal 56 ayat 3 UU nmr 1/2004.
 “Ada empat hal penting dalam menentukan temuan yaitu kesalahan administrasi, pemborosan, kemahalan dan fiktif atau mark up. Keempat hal tersebut menjadi dasar dalam pemberian opini,” tukas Bahrullah.

Ia berharap  ke depan pemerintahan harus clean and clear dalam pemeriksaan keuangan, agar nantinya tidak lagi ditemukan temuan –temuan korupsi.
Workshop dan entry meeting yang dilaksanakan selama dua hari ini merupakan yang pertama dilaksanakan oleh BPK-RI kepada seluruh kepala daerah dan kepala perwakilan BPK di seluruh Wilayah Timur Indonesia.
Hadir juga pada acara tersebut selaku pembawa materi  Anggota III BPK-RI Prof Dr Eddy Mulyadi Soepardi CFrA CA , Staf Ahli Kemendagri Bidang Ekonomi dan Pembangunan Drs Hamdani MM MSi AK , Wakil Ketua KPK Drs Saut Situmorang MM, Gubernur Sulawesi Selatan Dr H Syahrul Yasin Limpo SH MSi MH  serta para peserta seluruh kepala daerah se-Wilayah Timur dan seluruh kepala perwakilan BPK- RI se-Wilayah Timur. (riskysondakh)


Tombeng : Penempatan Guru di Desa Harus Didukung Fasilitas Memadai

Tidak ada komentar
Manado,-
Legislator Sulut, Herry Tombeng mengungkapkan bahwa penyebaran guru di Sulawesi Utara belum merata. Buktinya, ketersediaan guru masih saja menjadi keluhan yang sering disampaikan warga di sejumlah desa.Tidak hanya soal kuantitas, profesionalisme dan penempatan guru di desa pun ikut dikeluhkan.

Legislator Sulut, Herry Tombeng.
"Ada keluhan yang saya dapati, dan ini sering disampaikan warga desa saat reses. Bahwa tempat tinggal guru yang ditugaskan di desa cukup jauh atau di luar dari desa dimana sekolah itu berada," ujarnya, kepada sejumlah wartawan diruang kerjanya, Rabu, 29 Maret 2017.

"Secara otomatis, guru tersebut harus menempuh perjalanan yang jauh. Kasihan mereka. Nah, begitu juga kalau guru itu tak datang. Kan tentu saja mengganggu aktivitas proses pembelajaran di sekolah. Dan ini tidak bisa dibiarkan," tambah politisi Partai Gerindra Dapil Minut - Bitung ini.

Dia pun berharap, pemerintah bisa memikirkan persoalan tersebut dan segera mencarikan solusi terbaik.

"Pemerintah daerah dalam hal ini dinas pendidikan bisa menyiapkan sarana dan prasarana pendukung yang memadai, seperti alat transportasi maupun rumah dinas. Ini agar proses pembelajaran tidak terganggu," tandasnya. (john)


Maret 29, 2017

Moniaga : Bandara Samrat Sebaiknya Dijadikan Pangkalan Udara Militer

Tidak ada komentar
Manado,-
Bumi Nyiur Melambai jika dilihat dari letak geografis merupakan salah satu daerah di Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara lain. Dengan kondisi tersebut, sangat jelas bahwa wilayah Sulut membutuhkan proteksi keamanan yang ketat.

Legislator Sulut, Juddy Moniaga.
Selaras dengan hal itu, Legislator Sulut Juddy Moniaga menilai jika daerah ini sudah sangat layak untuk memiliki pangkalan udara Militer.

"Sangat layak jika ada pangkalan udara militer di Sulut. Sebab, selain penting untuk sektor pertahanan daerah yang langsung berbatasan dengan negara lain, juga karena meningkatnya status kemiliteran daerah yang tentunya akan diikuti dengan makin banyaknya perwira tinggi yang akan bertugas atau menetap di Sulut," ujar Moniaga ketika berdialog dengan sejumlah wartawan di ruang Komisi III DPRD Sulut, Senin, 27 Maret 2017.

Lanjut dijelaskannya, Bandara Sam Ratulangi bisa difungsikan sebagai pangkalan udara militer.

"Bandara Sam Ratulangi secara total bisa dialihkan sebagai pusat kegiatan militer atau pangkalan udara khusus untuk militer. Sebab, bandara yang ada sekarang lebih tepat pemanfaatannya untuk tujuan tersebut," ujar Moniaga.

Ketua fraksi Gerindra di DPRD Sulut itu menuturkan, untuk kepentingan komersil, bandara bisa direlokasi ke tempat lain yang lebih aman dan memenui syarat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di sektor perhubungan khususnya transportasi udara.

"Bandara Sam Ratulangi bisa dipindahkan, dan lokasi yang strategis adalah di Minahasa Bagian Barat tepatnya di Arakan atau Rap-Rap. Lokasi itu lebih dekat dijangkau dari semua kabupaten dan kota, dan untuk ke Kota Manado bisa di dukung dengan fasilitas jalan tol," pungkasnya. (john)




Maret 28, 2017

Sikapi Keluhan Angkutan Umum, Felly : Mari Jujur Pada Diri Masing-Masing

Tidak ada komentar
Manado,-
Sektor perhubungan darat Provinsi Sulawesi Utara, diterpa konflik sosial. Persaingan antara kendaraan umum berbasis online dengan angkutan konvensional, menjadi pemicu gejolak tersebut.

Personil Komisi III DPRD Sulut, Felly Runtuwene.
Menyikapi hal itu, Personil Komisi III DPRD Sulut, Felly Runtuwene menggiringnya ke sisi humanis dengan menyerukan agar semua pihak bisa jujur kepada diri sendiri.

Felly menuturkan, secara substansial, pemanfaatan kendaraan angkutan umum pada prinsipnya tergantung pada pilihan masyarakat dan beragam faktor jadi bahan pertimbangan, misalnya aman dan nyaman.

"Karena masyarakat yang memutuskan, mungkin ini yang patut dipertimbangkan oleh pengemudi angkutan umum serta Organda. untuk bagaimana melihatnya dimana bentuk kelebihan dan kekurangannya. Mungkin dari unit itu sendiri yang sudah tidak layak, kemudian masalah kebersihan dari taxi tersebut," sebut Felly Runtuwene dalam hearing gabungan komisi I dan III DPRD Sulut dengan Organda dan Aparat kepolisian serta Dinas Perhubungan Pemprov Sulut, sebagaimana digelar di ruang rapat I Gedung DPRD Sulut, Senin, 27 Maret 2017.

Operasional angkutan umum yang dikenal dengan sebutan taxi gelap juga memiliki dampak. Dimana menurut Felly, bisa saja terjadi permainan tarif.

"Taxi gelap itu banyak di bandara Sam Ratulangi. Kalau kita disini mungkin bisa memahami, tetapi kalau tamu asing? itukan harganya bisa dimainkan dan lain sebagainya," sebut Felly.

Menurutnya lagi banyak multi player efeknya, karenanya mungkin perlu ada perlakuan khusus dari pemerintah provinsi, walaupun secara nasional ada aturannya.

"Di Bali saya lihat mereka kuat, secara nasional ada aturan bla.. bla.. Tapi mereka juga punya aturan sendiri. Di Denpasar saya melihatnya seperti itu," tuturnya.

Selain itu dikatakan Felly, dinamika itupun tergantung bagaimana keseriusan pemerintah memproteksi masyakat dan pengusaha. "Jadi kembali lagi kepada aturan yang dibuat pemerintah kita, aturan yang dibuat pemerintah pusat seperti apa? Bisa juga seperti saya katakan tadi, di darah kita diprotect seperti Perda, itu bisa saja karena Denpasar susah ada," ungkapnya.

Diutarakan juga, fenomena ini menyangkut pelayanan dan bukan hanya terjadi di Indonesia tetapi di seluruh dunia. Dicontohkannya, saat di London dirinya hanya mengeluarkan 11 hingga 12 poundsterling, sedangkan menggunakan taxi online hanya butuh 5 poundasterling.

"Mungkin harus jadi perhatian bagi pihak organda sendiri untuk berbenah diri. Karena dikembalikan ke masyarakat sendiri. Jadi kembali lagi seperti apa pembenahan diri, agar masyarakat bisa mendapatkan kenyamanan yang luar biasa saat menggunakan taxi atau angkot. Juga perlu ada koordinasi antara dinas perhubungan, dirlantas dan lain sebagainya untuk duduk bersama, dimana benang kusutnya untuk mendapatkan hasil maksimal yang diinginkan bersama. Jadi tidak bisa kita menghasilkan sesuatu untuk rapat ini, karena kita harus duduk bersama dari dinas perhubungan, Dirlantas, dan dari Organda sendiri dan kita coba cari satu demi satu. marilah kita jujur pada diri kita masing-masing," pungkas Felly yang juga berkapasitas sebagai ketua Fraksi Restorasi Nurani untuk Keadilan di DPRD Sulut. (john)

Maret 26, 2017

POR P/KB GMIM 10K Terbuka untuk Agama Lain

Tidak ada komentar

Tomohon -

Komisi Pria Kaum Bapa (P/KB) Sinode GMIM (SG) mendukung sepenuhnya keputusan Panitia POR P/KB GMIM 2017 yang mengakomodir seluruh masyarakat Sulut tanpa memandang agama yang dianut, untuk mengikuti lomba marathon 10 kilometer (P/KB GMIM 10K).

"Kami mendukung panitia untuk mengakomodir seluruh masyarakat ikut dalam P/KB GMIM 10K. Ini merupakan sebuah wujud bahwa GMIM itu adalah gereja yang inklusif artinya sebuah sikap yang memandang positif perbedaan yang ada," kata Ketua Komisi P/KB SG Pnt Ir Stefanus BAN Liow (SBANL), Minggu (26/03).

Suasana Temu Teknis yang digelar Sabtu kemarin.
Kata SBANL, ini juga untuk membangun sikap dalam beragama sehingga melahirkan pluralisme beragama.
"10 K P/KB SG adalah bersifat terbuka sehingga diperkenankan dari agama/golongan lainnya. Sedangkan cabor lainnya ada kepesertaan P/KB GMIM sebagaimana amanat Tata Gereja. Sebelumnya kami juga sudah membuat aturan untuk mengakomodir agama lain untuk bisa berpartisipasi pada lomba paduan suara, dengan metode 20 persen dari total penyanyi," kata SBANL.

Sebelumnya Ketua Harian Panitia POR P/KB GMIM Pnt Hengky Kawalo memaparkan bahwa khusus lomba P/KB GMIM 10K akan dibuat terbuka untuk umum.

"Ini untuk umum tapi peserta tidak boleh dari luar daerah Sulut. Saya bisa pastikan lomba ini akan ramai sebab hadiah yang akan diberikan cukup besar. Cepat mendaftar karena pendaftaran akan ditutup 1 April," kata Kawalo bersama Sekretaris Pnt Novie Lumowa.

Lomba P/KB GMIM 10K akan digelar Sabtu 8 April mulai pukul 06.00 Wita, dengan lokasi star di Stadion Klabat. Lomba ini akan dibagi 2 kategori, yakni kategori umum dan pelajar. (pokjainfokom)

Remaja Bethesda Gelar Pelayanan ke GPIB Ekklesia Bali

Tidak ada komentar


Bali –

Komisi Pelayanan Remaja GMIM Bethesda Ranotana Manado, Minggu (26/03) mengadakan pelayanan rohani ke Gereja Protestan bagian Barat (GPIB) Jemaat Ekklesia Bandar Udara International I Gusti Ngurah Rai Bali.
Di GPIB Ekklesia Komisi Remaja Bethesda diterima langsung Ketua Pelayanan Kategorial (Pelkat) Teruna (Remaja-red) Charon Hukom didampingi Ketua I Badan Pekerja GPIB Ekkesia Arnold Moningkey. “Selamat datang di GPIB Ekklesia, kami sangat bersyukur dengan kedatangan teman-teman pelayan remaja dari Manado,” ujar Charon menyambut kedatangan Komisi Remaja Bethesda, yang dipimpin Ketua Komisi Pnt Steven Rondonuwu.
  
Suasana Sharing Pelayanan.

Sebelum mengikuti ibadah bersama, kedua Komisi Kategorial melakukan sharing pelayanan terkait pelayanan bagi remaja di jemaat masing-masing. Terungkap, untuk GPIB Ekklesia ibadah hanya dilakukan pada setiap hari Minggu di gereja, namun dipisah dengan ibadah umum bersama jemaat. “Kalau kita ibadahnya hanya setiap hari Minggu jam 9 digelar di lantai II,” ujar Charon.

Foto bersama Remaja dan Pembina GPIB Ekklesia.
Wanita berdarah campuran Sangihe Langowan yang lahir dari Keluarga Makasuci - Massie ini menyebutkan, kesulitan yang dia alami dalam hal melayani remaja adalah jika pada setiap ibadah sedikit anggota remaja yang hadir. “Seperti hari ini mungkin karena hujan yang hadir hanya sekitar 20 orang, biasanya 80-90 orang,” tegas Charon.
 
Suasana di ruang ibadah remaja GPIB Eklesia.
Untuk pendanaan dalam kegiatan pelayanaan juga terungkap saat sharing. Dia menyebut untuk dana membiayai kegiatan semua diambil dari Kas Gereja. “Untuk menunjang kegiatan pelayanan berapapun yang kami minta itu yang disediakan gereja, artinya tidak ada patokan subsidi dana per tahun, semua tergantung permintaan,” kata dia.

Ketua Remaja Bethesda Pnt Steven Rondonuwu memberi cendera mata pada Ketua Remaja GPIB Charon Hukom.

Meski begitu dia mengakui untuk kegiatan Remaja di GPIB Ekklesia setiap tahunnya tidak sebanyak yang dilakukan Remaja Bethesda. “Ibadah Natal, pelayanan ke panti asuhan dan ibadah padang, itu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan setiap tahun ditambah ada kegiatan lain,” ujarnya.

Soal teknis ibadah di GPIB Ekklesia semua anggota remaja diberikan peran seperti Pelayan Firman, MC, Pembawa Pujian hingga pemain musik, hal itu dilakukan agar supaya para remaja tidak bosan dalam beribadah serta merasa diberi peran.
Foto bersama Komisi Remaja Bethesda di dalam Gereja.
“Hal yang rutin sering kami lakukan adalah melakukan sharing dengan adik-adik remaja sambil menanyakan apa cita-cita mereka. Anak remaja disini banyak yang mempunyai cita-cita jadi Pilot, Chief dan Pengusaha. Berdasarkan hal itu kami pun sering menghadirkan Pilot, Chief dan Pengusaha untuk berbicara langsung dan memotivasi para remaja,” tuturnya.

Sementara itu Ketua I Badan Pekerja GPIB Ekklesia Arnold Moningkey menyebut perbedaan remaja di Bali dan Manado adalah soal pergaulan. Lelaki yang menempuh pendidikan SMP hingga tamat di Fakultas Tehkik Unsrat ini mengaku banyak mengetahui pergaulan anak muda di Manado.


“Anak remaja di Manado sudah mengenal rokok dan minuman keras, dan banyak yang meninggal sia-sia karena kriminalitas. Banyak alami kecelakaan saat mengendarai sepeda motor tabrakan, setelah ditanya ternyata dalam kondisi mabuk, tawuran di sekolah, narkoba serta kenakalan lain. Kalau di Bali bedanya anak remaja disini karena rata-rata pendatang, jadi mereka jika malam hari jarang keluar rumah,” kata Arnold.  

Foto bersama di depan Gereja GPIB Ekklesia.
Peran orang tua tambahnya tentu sangat penting dalam hal ini, karena ketika anak remaja sudah berada di rumah secara otomatis itu jadi tanggung jawab orang tua. Meski begitu dia memuji GMIM yang terkenal dalam hal pembinaan khusus di paduan suara. "Kami ingin sekali ikut lomba paduan suara serta melakukan pelayanan paduan suara di gereja, sayangnya tidak ada pelatih untuk melatih, beda dengan GMIM yah, setahu saya setiap festival Choir di Bali pasti GMIM paling banyak mengutus peserta," papar Arnold.

Usai sharing, Komisi Remaja Bethesda yang terdiri dari Levy Kaparang, Jerry Najoan, Jubilly Beleng, Jeine Pangkey, Lendi Terok serta tiga orang Pembina Alfani Pua, Romando Rondonuwu serta Agnesty Siwi, ikut ibadah bersama remaja GPIB Ekklesia.(vsc)

Berita Utama