NEWS :
http://voxsulut.com

 


 


TERBARU

    Maret 28, 2017

    Sikapi Keluhan Angkutan Umum, Felly : Mari Jujur Pada Diri Masing-Masing

    Tidak ada komentar
    Manado,-
    Sektor perhubungan darat Provinsi Sulawesi Utara, diterpa konflik sosial. Persaingan antara kendaraan umum berbasis online dengan angkutan konvensional, menjadi pemicu gejolak tersebut.

    Personil Komisi III DPRD Sulut, Felly Runtuwene.
    Menyikapi hal itu, Personil Komisi III DPRD Sulut, Felly Runtuwene menggiringnya ke sisi humanis dengan menyerukan agar semua pihak bisa jujur kepada diri sendiri.

    Felly menuturkan, secara substansial, pemanfaatan kendaraan angkutan umum pada prinsipnya tergantung pada pilihan masyarakat dan beragam faktor jadi bahan pertimbangan, misalnya aman dan nyaman.

    "Karena masyarakat yang memutuskan, mungkin ini yang patut dipertimbangkan oleh pengemudi angkutan umum serta Organda. untuk bagaimana melihatnya dimana bentuk kelebihan dan kekurangannya. Mungkin dari unit itu sendiri yang sudah tidak layak, kemudian masalah kebersihan dari taxi tersebut," sebut Felly Runtuwene dalam hearing gabungan komisi I dan III DPRD Sulut dengan Organda dan Aparat kepolisian serta Dinas Perhubungan Pemprov Sulut, sebagaimana digelar di ruang rapat I Gedung DPRD Sulut, Senin, 27 Maret 2017.

    Operasional angkutan umum yang dikenal dengan sebutan taxi gelap juga memiliki dampak. Dimana menurut Felly, bisa saja terjadi permainan tarif.

    "Taxi gelap itu banyak di bandara Sam Ratulangi. Kalau kita disini mungkin bisa memahami, tetapi kalau tamu asing? itukan harganya bisa dimainkan dan lain sebagainya," sebut Felly.

    Menurutnya lagi banyak multi player efeknya, karenanya mungkin perlu ada perlakuan khusus dari pemerintah provinsi, walaupun secara nasional ada aturannya.

    "Di Bali saya lihat mereka kuat, secara nasional ada aturan bla.. bla.. Tapi mereka juga punya aturan sendiri. Di Denpasar saya melihatnya seperti itu," tuturnya.

    Selain itu dikatakan Felly, dinamika itupun tergantung bagaimana keseriusan pemerintah memproteksi masyakat dan pengusaha. "Jadi kembali lagi kepada aturan yang dibuat pemerintah kita, aturan yang dibuat pemerintah pusat seperti apa? Bisa juga seperti saya katakan tadi, di darah kita diprotect seperti Perda, itu bisa saja karena Denpasar susah ada," ungkapnya.

    Diutarakan juga, fenomena ini menyangkut pelayanan dan bukan hanya terjadi di Indonesia tetapi di seluruh dunia. Dicontohkannya, saat di London dirinya hanya mengeluarkan 11 hingga 12 poundsterling, sedangkan menggunakan taxi online hanya butuh 5 poundasterling.

    "Mungkin harus jadi perhatian bagi pihak organda sendiri untuk berbenah diri. Karena dikembalikan ke masyarakat sendiri. Jadi kembali lagi seperti apa pembenahan diri, agar masyarakat bisa mendapatkan kenyamanan yang luar biasa saat menggunakan taxi atau angkot. Juga perlu ada koordinasi antara dinas perhubungan, dirlantas dan lain sebagainya untuk duduk bersama, dimana benang kusutnya untuk mendapatkan hasil maksimal yang diinginkan bersama. Jadi tidak bisa kita menghasilkan sesuatu untuk rapat ini, karena kita harus duduk bersama dari dinas perhubungan, Dirlantas, dan dari Organda sendiri dan kita coba cari satu demi satu. marilah kita jujur pada diri kita masing-masing," pungkas Felly yang juga berkapasitas sebagai ketua Fraksi Restorasi Nurani untuk Keadilan di DPRD Sulut. (john)

    BERITA UTAMA