NEWS :
http://voxsulut.com

 


 


TERBARU

    Mei 10, 2017

    Ibu dan Anak Meninggal di RSUP Kandou, Ini Penjelasan Medis Dirut

    Tidak ada komentar
    Manado-

    Peristiwa meninggalnya Hesty Toweka (31) pasien asal Tobelo Maluku Utara bersama anaknya yang masih adalam kandungan, Senin (8/5) di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof RD Kandou Manado, yang oleh pihak keluarga dituding terlambat diberikan tindakan medis, akhirnya mendapat tanggapan pihak RSUP Kandou melalui Direktur Utama dr Maxi Rondonuwu DHSM MARS.  

    Berbicara di hadapan sejumlah wartawan di ruang rapat Direksi, Selasa (9/5) siang tadi, Dirut ikut didampingi Direktur Pelayanan dan Medik dr Armenius Sondakh, serta dua dokter dari tim kebidanan dan kandungan yang menangani korban yakni Dr. dr. John Wantania, Sp.OG (K) dan Dr. Juneke J. Kaeng, Sp.OG(K) serta Ns. Isje Sondakh, Amd.Keb, S.Kep, selaku Kepala Irina D, tempat korban dirawat.
     
    Dirut didampingi tim dokter menjelaskan kronologis meninggalnya pasien pada wartawan.
    “Jadi kami harus meluruskan bahwa korban tidak pernah dibiarkan selama mendapat perawatan, malah setiap tiga hari pasien tersebut dikontrol oleh petugas sebelum rencana operasi dilakukan,” kata Dirut membuka pernyataannya.
    Diapun menceritakan kronologis awal sebelum korban meninggal. Pasien dirujuk Sabtu (0/4) dari dari Rumah Sakit Umum Tobelo Maluku Utara dengan diagnosa hamil 32 – 33 minggu, ditambah gejala penyakit Leukositosis.
    Saat tiba di RSUP Kandou pasien di tempatkan pada ruangan Rawat Inap D. “Lasimnya pasien biasa tim Dokter Kebidanan dan Kandungan langsung mengambil tindakan dalam hal menangani keadaan infeksi pasien dan dilakukan penanganan bersama dokter Bagian Penyakit Dalam, dengan disertai penanganan untuk menjaga kondisi kehamilan,” sebut Dirut.
    Usai infeksinya teratasi kata dia lagi, pasien kemudian direncanakan untuk terminasi kehamilan dengan cara operasi Sectio Caesarea, dengan syarat setelah umur kehamilan sudah sesudah masuk usia 37 minggu (Aterem), serta kondisi pasien memungkinkan.
    Pada tanggal 26 April oleh dokter spesialis kebidanan, pasien dilakukan pemeriksaan USG ulang, kemudian hasilnya disampaikan kepada keluarga bahwa rencana operasi akan dilakukan pada pekan depan.
    “Tanggal 5 Mei dikonsulkan lagi ke bagian anastesi untuk rencana operasi, dan akhirnya dijadwalkan di instalasi bedah sentral operasi dilaksanakan tanggal 08 Mei 2017, saat mana usia kehamilan sudah mencapai 36 - 37 minggu,” sebutnya.
    Semua proses persiapan operasi tambah dia, juga telah dikonsulkan ke bagian bedah dalam hal melakukan pendampingan, karena memang dari hasil pemeriksaan USG ditemukan adanya Massa (Tumor) di dalam perut pasien.
    Sayangnya, pada tanggal 06 Mei sekitar jam 01.00 pasien mengalami kenaikan tekanan darah 180 per 110, yang kemudian diikuti kejang hingga penurunan kesadaran. Ternyata belakangan pasien dinyatakan mengalami Eklampsia, hingga langsung ditangani sesuai protokol penanganan Eklampsia.
    Pasien pun dipindahkan ke ruangan rawat Intensive Care Unit (ICU), dan  pada tanggal 08 Mei 2017 sekitar pukul 06.30 WITA, pasien dinyatakan meninggal dunia di ruangan ICU.
    “Kami turut berduka, dan kejadian seperti ini tak ada satupun yang menginginkan. Secara medis kami sudah melakukan semua tindakan diantara memberi pelayanan maksimal serta memberi asupan obat-obatan terbaik, karena memang pasien dijamin dengan BPJS, jadi tak ada alasan tidak diberikan pelayanan,” ucap Dirut.

    Soal tindakan, nantinya sidang kode etik akan menentukan para dokter dan perawat yang menangani pasien apabila memang ditemukan melakukan kesalahan. “Kami punya sidang kode etik tunggu saja hasilnya karena ada tim yang sedang melakukan investigasi, dan jika keluarga pasien berkehendak membawa persoalan ini ke ranah hukum kami siap menghadapinya. Yang pasti kami memohon maaf dan tak pernah meninginkan peristiwa ini terjadi,” paparnya.

    Sebelumnya diberitakan korban meninggal bersama bayi di dalam kandungannya. Suami korban, Desti Kalibato (28) mengatakan sejak berada di ruangan inap Irina D, dia menilai layanan yang diberikan tidak semestinya hingga isterinya meninggal. "Mereka tidak menjelaskan apa penyebabnya, sehingga proses operasi tidak dilakukan. Pasien memang peserta BPJS. Namun kami juga sempat bilang, jika ada biaya operasi, kami siap membayarnya, asal korban mendapatkan penanganan yang baik," ucapnya.(vsc)


    BERITA UTAMA