NEWS :
http://voxsulut.com

TERBARU

    Desember 16, 2017

    Pembina Remaja Mengadu ke BPMS, Pdt Arthur: KPRS Harus Tanggungjawab

    Tidak ada komentar
    Tomohon -

    Belum terealisasinya penghargaan serta uang pembinaan saat lomba Pesta Seni dan Kreatifitas Remaja Sinode (PSdKRS) GMIM di wilayah Mando Winangun September lalu, dipertanyakan sejumlah pembina remaja GMIM, Jumat (15/12) di kantor Sinode GMIM.

    Pdt Arthur saat menerima sejumlah Penatua Remaja di ruang kerjanya.
    Diterima Wakil Ketua BPMS GMIM bidang Ajaran Pembinaan dan Pengembalaan (APP) Pdt Arthur Rumengan, M.Teol, M.PdK di ruang kerjanya di lantai 1, Pnt Frederik Tangkau Ketua Remaja Sion Perak Sorong dan Pnt Stevie Kaligis Ketua Remaja Syaloom Karombasan, menyampaikan keluhan para pembina remaja.

    "Kami datang ke tempat ini mewakili para pemenang lomba dan hanya mau mempertanyakan soal komitmen panitia pelaksana dan KPRS selaku penanggungjawab kegiatan. Hingga hari ini hadiah lomba belum juga direalisasi," tegas keduanya yang ikut didampingi Pnt Noldi Lela Ketua Remaja Anugerah Teling Tingkulu, Pnt Rhoudy Sumanti Ketua Remaja Victory Kairagi Weru, Pnt Frangky Sumakul Ketua Remaja Imanuel Buha, Pnt Sem Wuisan Ketua Remaja Siloam Dendengan Luar, Pnt Risky Tombeng Ketua Remaja Kharisma Buha, Pnt Jemrif Alfa Ombong Ketua Remaja Petra Ranomut, Pnt Mario Tamebaha Ketua Remaja Syalom Dendengan Dalam, Pnt Feiby Lontoh Ketua Remaja Kinamang Kaiwatu, Pnt Sani Samola Ketua Remaja Berhikmat Karombasan, Pnt Steven Rondonuwu Ketua Remaja Bethesda Ranotana, Pnt Bonny Rompas Ketua Remaja Imanuel Bahu, Pnt Mario Syaloom Dendengan Dalam, Daniel Takarasel Sekretaris Remaja Yarden Dendengan Dalam dan Mentari Tumoka serta Yansen Baban Sekretaris Remaja Syaloom Karombasan.

    Pembina remaja foto bersama Pdt Arthur di lobby kantor Sinode GMIM
    Sejak selesai pelaksanaan PSdKRS tambah keduanya, sudah tiga kali panitia lewat ketua Daniel Mewengkang menjanjikan segera merealisasikan hadiah lomba namun hingga kini belum ada penyelesaian.

    "Mengapa kami mengadu ke BPMS, karena kami melihat tidak ada perhatian dari KPRS dan panitia soal hal ini, ketika kami hubungi panitia dikatakan silahkan hubungi KPRS sebaliknya juga demikian, hal inilah yang mendasari kami mempertanyakan ke BPMS," ujar Kaligis dan Tangkau.

    Disebutkan keduanya lagi, laporan yang disampaikan ini semata-mata tidak ada niat untuk menjatuhkan pihak manapun namun lebih dari sebagai faktor pembelajaran agar supaya pada kegiatan lain tidak terjadi hal seperti ini.

    Mendengar keluhan tersebut, Pdt Rumengan terlihat terkejut. Dia mengakui jika KPRS tak pernah menyampaikan persoalan ini ke BPMS.

    "Seharusnya ini tak terjadi, pak Moody selaku ketua KPRS seingat saya belum pernah melaporkan itu," kata Pdt Rumengan.

    Kata dia lagi, persoalan tersebut jangan dilihat sebagai hal yang sepeleh karena bisa membuat keresahan dan semangat melayani remaja bisa hilang, ini harus diseriusi.

    "Jika persoalan ini tidak selesai cepat, tentu bisa meluas. Saya berpikir apakah uang nda cukup atau ada penyimpangan nda tau yah bukan menuduh panitia dan KPRS, jangan-jangan saja," tambahnya.

    Seharusnya masalah ini sebut dia tak sampai ke BPMS, karena KPRS selaku pembina harus mampu melayani karena ada 15 orang anggota KPRS.

    "Saya akan mempertanyakan di rapat, setidaknya BPMS akan ikut memikirkan dan mencari jalan keluar supaya nda jadi keresahan, pasti akan buat rapat khusus, terus terang saya baru tau persoalan ini," tegas Pdt Arthur.(vsc)

    BERITA UTAMA