NEWS :
http://voxsulut.com

 


 


TERBARU

    Februari 01, 2018

    Cath Lab Hadir di RSUP Kandou

    Tidak ada komentar
    Manado -

    Inovasi tiada henti dilakukan Direktur Utama RSUP Prof Dr R.D Kandou dr Maxi Rondonuwu DHSM MARS bersama jajarannya. Terkini, dengan penambahan Cath Lab di Instalasi Bedah Sentral (IBS).


    Dr. dr. Jimmy Panelewen, Sp.B-KBD selaku Direktur SDM dan Pendidikan mengatakan, sebagai Rumah Sakit Rujukan Nasional di Indonesia Timur yang sedang mempersiapan diri menyambut akreditasi Internasional pihaknya terus berupaya untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan di RSUP Kandou, guna memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan dengan menambahkan peralatan kesehatan seperti Cath Lab yang ada di bagian Bedah Sentral ucapnya.

    Menyangkut tehnis pelaksanaan
    dijelaskan dr Djony Tjandra SpB(KV) salah satu dokter Pelaksana di Cath Lab, penambahan satu unit cath lab di IBS, membuat layanan di RS ini semakin paripurna.


    "Cath lab yang merupakan salah satu layanan unggulan mengedepankan tindakan minor invasif dan tidak ada bekas sayatan (pembedahan terbuka)
    Dengan alat ini pun kasus-kasus endo vasculer seperti penanganan vaskuler pada pasien-pasien cuci darah dspat ditangani secara komprehensif atau menyeluruh. Pemasangan kateter double lumen idealnya dikerjakan di cath lab. Supaya dapat ditentukan  ujung dari kateter doublelumen itu, sehingga bisa dilakukan tindakan hemodialisa yang lebih optimal disamping itu juga tindakan di cath lab dapat dikerjakan mempercepat maturitas dari suatu arteriovenous (AV) fistula atau cimino," katanya.

    Cara ini tambah dia adalah yang terbaru untuk mematangkan atau mempertahankan akses hemodialisis atau cuci darah. Lanjutnya, tindakan minimal inpasif berupa venoklafi dan venoplasti bisa dikerjakan dengan cath lab. Tentunya jika ada stenosis atau penyempitan di akses pembuluh darah ( simino ) di cimino pada pembuluh darah pasien bersangkutan.


    “Kita bisa memasang baloon supaya dapat mempertahankan kesinambungan jangka panjang akses vaskuler cimino. Dan waktu pemakaian cimino bisa lebih panjang,” tandasnya.

    Tindakan pada kasus vena lain seperti adanya deep vein thrombosis (sumbatan pembuluh darah) pada pembuluh darah balik di bagian dalam, juga dapat dikerjakan.

    "Seperti pemasangan vena cava filter. Dimaksudkan mencegah emboli paru yang bisa mengancam pasien. Terutama pada kasus-kasus tumor di kandungan atau di alat genitalia bagian dalam. Jika ada sumbatan bisa berisiko emboli paru,” terang Tjandra.


    Kasus-kasus varises (pelebaran pembuluhvdarah dI tungkai bawah) bisa juga dikerjakan tindakan radio frekuensi ablatio berupa tindakan minimal inpasif dengan melakukan ablatio tanpa ada sayatan terbuka. Ada juga tindakan untuk mengatasi varises di bagian dalam alat genitalia perempuan, yang mudah terjadi perdarahan pada persalinan biasa.

    Begitu pula papar dia, kasus kaki diabetes yang cukup tinggi angka kejadiannya di Sulut, dimana kasus kaki diabetes selain bermasalah secara infeksi, persarafan yang terganggu karena pasien tidak lagi merasa nyeri. Adanya gangguan vaskularisasi atau iskemik, yaitu aliran darah tidak sampai ke ujung-ujung tungkai kaki bagian bawah, membuat luka menjadi lama sembuh.

    Komplikasi lain berupa daerah tersebut kekurangan suplai darah, oksigenasi, dan nutrisi. Berakibat proses penyembuhan jadi terganggu. Sehingga risiko kaki diabetes terancam diamputasi.

    “Cath lab bisa menunjang tindakan angiografi dan angioplasti dimana kita menambah aliran darah ke kaki diabetes menggunakan baloon atau stent-stent seperti yang sudah kita kenal pada operasi jantung,” tutur Tjandra.

    Selanjutnya, kasus-kasus tumor di ginjal maupun rahim yang berisiko terjadi perdarahan. Dengan cara dilakukan penutupan aliran darah ke daerah tumor atau di kenal dengan tindakan embolisasi. Disumbat pembuluh darah di daerah sasaran, dan operator yang akan melakukan operasi terhafap tumor tersebut perdarahan dapat terkontrol.

    Selain itu, kasus-kasus pembedahan terbuka seperti aneurisma aorta (pelebatan pembuluh nadi) yang dulu dilakukan secara terbuka dimana resiko mortalitas dan mobilitas yang tinggi dan perawatan yang lama saat ini bisa dilakukan secara minimal invasif. Yaitu dengan tindakan EVAR (Endovaskuler Aneurysm Repair). Berupa pemasangan ring stant di pembuluh darah aorta, dan pembuluh besar keluar dari jantung.

    Tjandra menekankan, minimal invasif bisa mengurangi risiko dari tindakan operasi besar. Begitu pula lama perawatan dan pembiayaan lebih ringan.

    "Walau penggunaan high tech berimbas cost akan besar, tapi efisiensinya lebih baik dengan melakukan minimal invasive,” ucapnya, sembari mengungkapkan, keuntungan dari cath lab di Instalasi Bedah Sentral, dapat dilakukan konversi di tempat dan waktu bersamaan jika terjadi masalah pada minimal invasif.

    Ditunjang dengan kerja sama cepat dengan bidang anestesi atau pembiusan. Ditambahkan Tjandra, banyak kasus endovaskular bisa dikerjakan dengan berkembangnya teknologi saat ini. Ditunjang dengan kemampuan SDM dan fasilitas yang baik.

    Di Indonesia, katanya, penanganan kasus–kasus endovaskular sudah berkembang pesat selang 10 tahun terakhir.Tindakan-tindakan di atas juga bisa dinikmati semua warga Indonesia. Karena tercover oleh program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang dikelola BPJS Kesehatan.

    Ditambahkan Kepala Instalasi Bedah Sentral dr. Herman Kereh, SpB bahwa saat ini tenaga SDM di cath lab IBS kualitasnya semakin bagus baik itu Dokter maupun Perawat diantaranya dr. Richard Sumangkut, SpB (K) Sebagai Kepala Divisi Vascular, dr. Gilbert Tangkudung SpS(K) serta para perawat yang dikoordinir oleh Ns. Lussy Kambey, S. Kep, M. Kes imbuhnya (hukormas/vsc)

    BERITA UTAMA