NEWS :
http://voxsulut.com

 


 


TERBARU

    Juni 12, 2019

    Kesaksian Dua Finalis Retel Sinode GMIM asal Jakarta

    Tidak ada komentar

    Jarak Bukan Masalah Untuk Menjadi Teladan

    Eugenia dan Cecilia
    Manado –

    Pelaksanaan kegiatan Remaja Teladan (Retel) Sinode GMIM tahun 2019 segera memasuki tahapan Road Show. Iven tahunan Komisi Pelayanan Remaja Sinode (KPRS) GMIM ini kian menarik dan menjadi perhatian ratusan ribu remaja se - GMIM, apalagi untuk pertama kalinya kegiatan yang digelar pada tahun 2003 ini, di tahun 2019 ada remaja asal Wilayah Jabodetabek yang ikut bahkan lolos hingga ke tahapan final.

    Adalah Cecilia Febrina Montolalu Jehosua dan Eugenia Syalom Bororing, dua utusan jemaat GMIM Imanuel Jakarta Barat, membuktikan jika mereka berdua bisa bersaing dengan remaja yang ada di Manado Minahasa dan Bitung.

    Ditemui secara khusus di sela Karantina Retel di Jen's House Airmadidi, keduanya secara bergantian menyampaikan motivasi keikutsertaan dalam kegiatan ini.

    “Awalnya mendengar pemberitahuan di gereja, kemudian ditawari kakak pembina. Saya melihat ini sebuah tantangan dan kesempatan karena sudah sering mendengar kegiatan Retel ini walaupun sebatas di media sosial,” aku Cecilia mengawali pembicaraan.

    Akhirnya setelah melalui proses registrasi, dia bersama beberapa teman mengikuti tes tertulis di Jakarta, dan akhirnya dinyatakan lolos ke tahapan wawancara. Dari situ ia menyebut kesempatan sudah semakin dekat, bersama Eugenia dirinya pun langsung mempersiapkan diri ditambah bantuan kakak-kakak alumni Retel yang kini tinggal di Jakarta, terus memperlengkapi dengan materi terkait tahapan wawancara.

    Hasilnya, keduanya pun dinyatakan lolos dari tahapan wawancara dan harus ke Karantina di Manado.
    “Karena orang tua dan semua pembina di gereja memberi dukungan akhirnya kami pun ada di tempat ini,” kata Cecil.

    Pulang ke Manado kata Cecil seperti pulang kampung saja, tak ada yang beda bagi dirinya. Gadis kelahiran Denpasar 17 Februari 2003 langsung bisa beradaptasi ketika tiba di lokasi karantina bergabung bersama finalis Retel lainnya.

    “Di rumah kwa pake bahasa Manado leh jadi nda susah beradaptasi, makanan leh sama tiap hari makanan khas Manado di rumah,” kata puteri dari pasangan Sym Herman Laurens Montolalu Jehosua dan Pnt Hellen Palit. 

    Dia menyebut motivasinya mengikuti Retel ialah ingin mencoba sesuatu yang baru atas kesempatan yang diberikan Tuhan padanya. “Ini juga membuktikan jarak bukan masalah jika berkerinduan untuk menyerahkan diri kita dan untuk menjadi teladan bagi Tuhan dan orang lain,” katanya.

    Pelajar kelas 12 SMA Yadika 2 Jakarta Barat ini pun menyebut kalau banyak hal baru didapatnya selama proses karantina. “Disini sesama remaja begitu peduli, beda remaja di Jakarta yang memiliki tingkat kepedulian kurang. Kemudian sikap saling memotivasi antara satu dengan yang lain sangat terasa, kesadaran dan tanggung jawab juga tidak sama dengan remaja di Jakarta,” cerita Cecil.

    Yang pasti Cecil berharap akan terus berada di jajaran finalis hingga malam final Retel nanti. Bahkan jika diijinkan Tuhan dia ingin menjadi yang terbaik.

    Sama seperti Cecil yang tidak kesulitan beradaptasi, Eugenia Syalom Bororing, pun menyebutkan hal yang sama. “Sejak usia tiga bulan karena orang tua tugas pindah tugas ke Jakarta, saya pun harus pindah dari Manado,” kata gadis kelahiran Manado 29 April 2004, mengawali pembicaraan.

    Lolos sampai ke tahapan karantina aku dia merupakan sebuah pengalaman baru yang pasti tak akan dilupakan. Selain berhasil menyisihkan ribuan peserta lain, ajang Retel ini dijadikannya sebagai bentuk tanggung jawabnya selaku bagian dari remaja GMIM mewujudkan Remaja Bagi Kristus selaku visi Remaja GMIM.

    "Ada banyak pengalaman yang akan saya bagikan buat teman –teman remaja di Jakarta nanti,” sebut puteri pasangan Pnt Wanny Bororing dan Wenda Mumek.
    Ketika ditanya motivasinya mengikuti kegiatan ini, pelajar kelas 1 SMA Citra Berkat Tangerang ini menyebut dirinya mau menjadi terang dan garam di tengah berbagai macam persoalan remaja yang ada, serta dapat menjadi teladan bagi tiap remaja dan menjadi anak Kristus juga menjadi remaja yang menunjukan kasih Kristus di tengah orang –orang.

    “Di Retel ini saya banyak mempelajari hal yang baru seperti hidup disiplin, cara menjadi bertanggung jawab serta menumbuhkan kepercayaan diri,” ucapnya.

    Kini sama seperti para finalis lainnya, Eugenia pun tinggal selangkah lagi bisa mewujudkan impiannya menjadi Remaja Teladan Sinode GMIM 2019.

    Sekretaris KPRS GMIM Pnt Melky Rocky Patiwael, berharap dengan hadirnya dua finalis asal wilayah Jabodetabek bisa menjadi motivasi buat remaja yang ada di Manado, Minahasa dan Bitung.

    “Pelaksanaan Retel dari tahun ke tahun semakin mendapat ekspektasi yang besar dari pembina dan adik-adik remaja. Ini dibuktikan hadirnya dua remaja dari Jakarta yang boleh ada hingga tahapan final,” kata Melky.

    Disisi lain Pnt Meilani Mongilala Ketua Bidang Pelsis KPRS GMIM, selaku penanggungjawab kegiatan Retel menyebut Eugenian dan Cecilia mempunyai kemampuan yang luar biasa.

    Selain cepat melakukan adaptasi ada beberapa kemampuan individu yang mereka perlihatkan selama proses karantina. Diapun menegaskan jika kedua finalis ini berpeluang menjadi yang terbaik.(vsc)

    BERITA UTAMA