NEWS :
http://voxsulut.com

 


 


TERBARU

    Juni 01, 2020

    PEMALU & FOBIA SOSIAL, APA BEDANYA?

    Tidak ada komentar
    dr. Neni Ekawardani
    Poliklinik Psikiatri Instalasi Rawat Jalan
    RSUP Prof. dr. R.D. Kandou Manado

    PERNAH melihat seseorang, atau bahkan mengalami sendiri, perasaan gugup atau cemas saat harus tampil di depan orang banyak? Rasanya, hampir semua orang pernah melihat atau mengalami hal tersebut.
    Perasaan gugup atau cemas tersebut sering dianggap sebagai perasaan malu, yang umumnya disebabkan karena perasaan tidak percaya diri, khawatir, atau takut akan penilaian orang lain.

    Ada yang merasa takut dianggap tidak mampu, merasa khawatir akan melakukan kesalahan, merasa tidak percaya diri karena diperhatikan orang banyak, bahkan merasa bingung harus bicara atau berbuat apa saat berada di depan orang banyak.

    Menurut dr. Neni Ekawardani Kepala Poliklinik Psikiatri Instalasi Rawat Jalan
    RSUP Prof. dr. R.D. Kandou Manado menjelaskan bahwa perasaan gugup, cemas dan malu tersebut wajar dialami seseorang, apalagi jika seseorang harus tampil di depan orang banyak untuk pertama kalinya, baik di depan orang yang sudah dikenal maupun yang belum dikenal. 

    "Pemalu hal yang Wajar, sebab Pemalu merupakan sebuah sifat atau karakteristik yang biasanya ditandai dengan rasa canggung, khawatir, cemas, atau gugup saat berada di suatu lingkungan sosial. Orang dengan sifat pemalu biasanya lebih pemilih dalam berinteraksi sosial, namun tetap mau ikut serta dalam kegiatan sosial dan hampir setiap orang di dunia ini pernah merasa malu, setidaknya sekali dalam hidupnya," jelas dr. Neni

    Perasaan malu tersebut kadang bisa membuat tubuh seseorang menjadi gemetar sebut dr. Neni seperti bibir bergetar saat berbicara, bahkan telapak tangan menjadi terasa dingin.

    "Namun hal tersebut biasanya hanya berlangsung sesaat, sekitar 10-15 menit di awal, selanjutnya setelah mereka beradaptasi dengan situasi yang membuat mereka merasa tidak nyaman, mereka akan mampu melewatinya dan mampu berinteraksi sosial dengan baik kembali," ucapnya.

    Sementara dr. Neni menjelaskan malu adalah perasaan atau emosi manusia yang wajar, seseorang dianggap wajar untuk merasa malu, asalkan tidak berlebihan serta tidak mengarah pada perasaan takut untuk melakukan interaksi dengan orang lain.

    "Jika seseorang merasa takut hingga menyebabkan dirinya tidak mau berinteraksi dengan orang lain, maka hal tersebut sudah dianggap tidak wajar dan dikategorikan sebagai sebuah gangguan yang disebut dengan istilah Fobia Sosial," katanya.

    Namun dr. Neni Ekawardani memberikan tanda waspada Fobia Sosial, sebab Fobia Sosial atau biasa disebut juga dengan istilah Social Anxiety Disorder, merupakan masalah atau gangguan kejiwaan kronis yang memerlukan penanganan khusus. Fobia Sosial biasanya ditandai dengan rasa takut berlebihan dan rasa cemas yang melebihi batas wajar, saat berinteraksi sosial dalam kehidupan sehari-hari.

    "Fobia Sosial juga sering ditandai dengan rasa takut yang tidak rasional terhadap penghinaan dan rasa memalukan, serta merasa tersiksa dan menderita saat berada dalam lingkungan sosial," tutur Kepala Poliklinik Psikiatrik.

    Lebih lanjut dr. Neni menambahkan bahwa para penderita gangguan Fobia Sosial cenderung mencari cara semaksimal mungkin untuk menghindar dari keadaan yang mengharuskan mereka melakukan interaksi sosial. Dan bila mereka terpaksa harus berinteraksi sosial karena tidak bisa lari dari situasi tersebut, mereka akan menghadapinya dengan perasaan sangat tersiksa dan menderita.

    Berbeda dengan orang bersifat pemalu yang tidak selalu berpikiran negatif, penderita Fobia Sosial sering mengalami berbagai pikiran dan emosi negatif, seperti rasa takut dan cemas berlebihan. Mereka selalu dihantui perasaan cemas saat dilihat dan diperhatikan oleh orang lain. Mereka juga selalu memikirkan pendapat orang lain, serta takut akan dinilai buruk, ditolak, atau dipermalukan orang lain.

    Pikiran dan emosi negatif ini akan berlangsung lebih lama, bahkan bisa berhari-hari sebelum hingga sesudahnya
    Ya, gejala Fobia Sosial ini cenderung menetap dan dapat berlangsung terus-menerus dalam waktu lama. Tapi, perlu diingat bahwa tidak semua orang yang memiliki.(***)

    BERITA UTAMA