NEWS :
http://voxsulut.com

TERBARU

    Agustus 28, 2020

    Musda Golkar Manado Tuntas, Lili Binti Cs Protes

    Tidak ada komentar
    Suasana Musda PG Manado yang sempat ricuh
    Manado -

    Musyawarah Daerah (Musda) ke X Partai Golongan Karya (Golkar) Kota Manado, Kamis (27/8), di Hotel Four Points Manado yang berhasil memilih Maykel Damopolii selaku Ketua, sempat berbuntut ricuh sesama kader Golkar Manado.

    Terpantau, saat Musda baru saja akan dimulai, sejumlah Kader Partai Golkar Manado yang merupakan pengurus Kecamatan melakukan interupsi namun diabaikan.

    Keadaan semakin memanas saat petinggi-petinggi Partai Golkar seperti James Arthur Kojongian (JAK), Raski Mokodompit, Iwan Marlian hingga Plt Ketua Rubi Rumpesak yang berada di kursi pimpinan sidang meminta MC untuk tetap melanjutkan acara.

    Tak terima dengan hal tersebut membuat sejumlah peserta merasa diabaikan pimpinan sidang, sehingga membuat sejumlah kader Partai Golkar sampai-sampai naik ke atas meja untuk meminta penjelasan.

    Konflik di tubuh Partai Golkar tersebut diketahui akibat pergantian dan dinonaktifkannya sejumlah ketua Kecamatan yang dilakukan Ketua Golkar Manado Rubi Rumpesak yang berstatus Pelaksana Tugas (Plt), tanpa adanya informasi dilakukan pergantian.

    Ditambah lagi para Ketua PK merasa kecewa tidak mendapatkan undangan sebagai Ketua Kecamatan Partai Golkar Manado.

    Tragisnya, setelah akan dilanjutkan kegiatan Musda, sejumlah orang yang mengatasnamakan Satgas dan team pengamanan bermodalkan id card tiba-tiba menghampiri para Ketua PK, dan langsung mengangkat paksa serta mengiring mereka yang sempat berteriak melakukan interupsi.

    Akan hal tersebut, Ketua Penggurus Kecamatan Bunaken Risal Sasambe mengatakan sebagai Kader Partai Golkar, mereka tidak membuat kegaduhan tetapi hanya mempertanyakan soal status sebagai Ketua Penggurus Kecamatan.

    "Saya dan beberapa teman-teman sebagai Ketua Kecamatan Golkar Manado yang tentunya mempunyai kewajiban untuk hadir dalam Musda, namun hingga saat ini kami tidak mendapatkan undangan baik secara lisan maupun tulisan sehingga itu yang menjadi pertanyaan kami kepada Ketua Plt Ruby Rumpesak," ucap Sasambe.

    Sama halnya dengan Sasambe, Ketua Golkar Kecamatan Tuminting Djoni Kasehung juga mempertanyakan soal Kepenggurusan Kecamatan.

    "Pengurus Kecamatan yang sah adalah kami yang berlandaskan SK," ucapnya

    Sementara itu, Ketua Plt Golkar Manado Rubi Rumpesak mengatakan apa yang telah dilakukan berdasarkan kajian serta prosedur yang ada.

    Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) Sulawesi Utara (Sulut) Sultan Zulkarnain ikut memberi tanggapan.

    Ia membantah dan menyayangkan kejadian seperti ini terjadi di Partai Golkar yang adalah Partai besar yang dibesarkan berdasarkan sistem.

    "Sedangkan saya Kader Golkar yang sudah lama membesarkan Partai Golkar tak di zinkan Ketua Plt. Rubi Rumpesak untuk dapat masuk dalam Musda, berbicara SOKSI adalah pendirinya Golkar, ada Golkar karena ada SOKSI, rupanya Rubi Rumpesak tidak mengetahui sejarah Golkar," ucap Kader Senior Partai Golkar itu.

    Lebih lanjut, Sultan mengatakan tugas Plt adalah untuk menjalankan Musda dan tidak melakukan pergantian di kepengurusan Kecamatan.

    "Atas pergantian itulah sehingga terjadinya konflik di tubuh Golkar dalam musyawarah kali ini, yang namanya kader pastinya tidak menerima apabila di Plt-kan tanpa ada alasan yang tidak jelas, jangan sampai karena ada kepentingan sehingga penggurus Kecamatan main ganti," semburnya sembari menyebutkan bahwa Plt Ketua Rubi Rumpesak tidak dapat mengakomodir setiap Kader Partai Golkar Manado.

    Sekretaris DPD II Partai Golkar Dolfi Mamengko mengatakan, ada 7 Ketua Kecamatan yang dikeluarkan dalam Musyawarah Daerah.

    "Ada 7 Ketua Kecamatan yang disuruh keluar dalam musyawarah oleh Plt Ketua Golkar Manado yaitu Ketua Kecamatan Golkar Wanea Melisa Mandey, Ketua Kecamatan Wenang Lily Binti, Ketua Kecamatan Tuminting Djoni Kasehung, Ketua Kecamatan Bunaken Risal Sasambe, Ketua Kecamatan Sario Yopie Tania dan Ketua Kecamatan Mapanget serta saya sendiri yang dikeluarkan," ucap Sekretaris DPD II Golkar Manado Dolfi Mamengko sembari menunjukkan SK keabsahan kepengurusan Golkar Manado serta Ketua Kecamatan yang Sah.

    Sementara itu Ketua Fraksi Golkar DPRD Manado Lily Binti yang juga Ketua Penggurus Kecamatan Wenang Partai Golkar Manado yang turut digiring keluar ruang sidang membantah pernyataan Ketua Plt. Rubi Rumpesak terkait kepengurusan di Kecamatan.

    Menurut Lily Binti seluruh penggurus Partai Golkar telah diverifikasi sipol pada pemilihan legislatif itu sudah sah keabsahannya dan telah diotentifikasi oleh DPP Partai Golkar yang ditandai tangani Wakil Sekretaris Jenderal (Sekjen) dan berkas juga telah ada di Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).

    "Jadi apakah ini belum di verifikasi? Apakah ini belum sesuai aturan? Jadi semuanya berdasarkan aturan kenapa dikatakan melanggar, sedangkan yang melantik dan menyerahkan pataka kepada pengurus Kecamatan adalah utusan perwakilan DPD I Partai Golkar Sulut. Jadi kalau begitu perwakilan DPD I Sulut ini ilegal? Begitu juga pemilihan legislatif yang mengacu pada Sipol yang bisa di katakan tidak sah? Sama juga yang terjadi dengan pergantian Ketua di Kecamatan Partai Golkar," jelas Anggota DPRD Manado itu.

    Lebih lanjut, Lily Binti mempertanyakan mereka yang membentak dan memaksanya bersama teman-teman Ketua Kecamatan untuk keluar.

    "Emang mereka status apa di Golkar?, mereka itu tidak jelas statusnya apa di Partai Golkar Manado, tiba-tiba datang membentak bermodalkan id card, harusnya mereka di bawah keluar bukan kami yang adalah kader, serta yang harusnya berbicara dengan saya adalah Pengurus Partai Golkar DPD I atau DPD II atau Ketua Plt bukan preman yang datang teriak kepada saya dan menyuruh keluar," ucap Lily Binti yang adalah Anggota DPRD 3 periode itu sembari sangat kecewa dengan kondisi seperti itu terjadi di sekelas Partai yang besar Partai Golkar.

    Ditambahkan Lily Binti (LB) yang menjabat Wakil Ketua Komisi III DPRD Manado itu, harusnya dalam pemilihan seperti ini harus sportif donk. "Kalau menang yah menang, kalau kalah yah kalah jangan bertindak tanpa prosedur yang ada serta kekerasan," sembur LB.

    Melisa Mandey Ketua Kecamatan Golkar Wanea mengatakan meski dalam kondisi hamil dia tetap hadir dalam Musda.

    "Meski kondisi seperti ini karena kecintaan saya kepada Partai Golkar saya datang, tapi kami sebagai kader yang adalah Ketua Kecamatan dilakukan tidak selayaknya kader, bahkan ada beberapa Ketua Kecamatan diangkat seperti binatang untuk keluar ruangan," tutur Mandey dihadapan Iwan Marlian serta sejumlah peserta sambil menangis kekecewaan.(andresiwi)

    BERITA UTAMA