Penanganan Aneurisma Aorta Abdominal dengan Operasi Endovaskular oleh Tim Bedah Vaskular RSUP Kandou

oleh -441 views

Manado – Aneurisma aorta abdominal (AAA) adalah kondisi melebarnya aorta di bagian perut, secara abnormal. Aorta merupakan pembuluh darah arteri utama yang keluar dari jantung, untuk menyuplai darah ke seluruh tubuh. Belum diketahui secara pasti penyebab aneurisma aorta abdominal, namun beberapa faktor diduga menyebabkan kondisi ini di antaranya adalah kebiasaan merokok, tekanan darah tinggi (hipertensi), trauma karena kecelakaan, penyakit keturunan, serta infeksi dan penebalan pada arteri (aterosklerosis). Penyakit ini bisa ditangani oleh dokter bedah vaskular.

Gejala aneurisma aorta abdominal cukup sulit untuk diketahui. Kalau pun ada, gejala awal yang ditunjukkan tidak begitu terasa. Gejala-gejala AAA ditandai dengan nyeri yang cukup tajam di sekitar perut, nyeri punggung, dan kedutan-kedutan di sekitar pusar. Dokter akan merekomendasikan pemeriksaan aneurisma aorta abdominal pada pasien yang memiliki risiko terkena kondisi ini. Risiko utama AAA adalah laki-laki yang berusia di atas 65 tahun dan merokok. Selain itu, pemeriksaan ini juga dianjurkan untuk individu yang berusia 60 tahun atau lebih dengan riwayat keluarga yang menderita AAA.

Anerusima aorta abdominal bisa berbahaya apabila tidak segera ditangani. Sebanyak 80 persen dari pasien AAA kehilangan nyawa karena terlambat mendapatkan penanganan. Di sinilah pentingnya pemeriksaan aneursima aorta abdominal. Dengan mengetahui AAA sejak dini, dapat dilakukan upaya untuk mencegah aorta yang melebar tersebut pecah. Pemeriksaan aneurisma aorta abdominal menggunakan ultrasonografi (USG) merupakan prosedur yang tidak menyakitkan, cepat, dan dapat diandalkan. Sebagian dokter bahkan menyatakan pemeriksaan AAA sejak dini dapat mengurangi setengah dari risikonya yang mematikan.

Prosedur pemeriksaan lanjutan, yang lebih mendetail dalam pemeriksaan kemungkinan adanya AAA adalah prosedur CT-Angiografi, yaitu CT scan pembuluh darah yang dibantu dengan menggunakan kontras, sehingga pembuluh darah baik arteri atau vena yang akan dievaluasi lebih kelihatan jelas. Pada CT-Angiongrafi dokter bisa mengevaluasi posisi dari Aneurisma itu sendiri apakah di rongga dada (Aneurisma Thorakal) atau di rongga perut (Aneurisma Abdominal), keterlibatan pembuluh darah lain yang penting, dan ukuran dari aneurisma itu sendiri. Aneurisma aorta dengan ukuran diameter 5 cm atau lebih berisiko tinggi untuk pecah dan merupakan indikasi untuk dilakukan tindakan operasi.

Ada 2 metode yang digunakan untuk mengatasi AAA. Yang pertama adalah pembedahan terbuka, dimana dilakukan sayatan yang panjang pada dinding perut pasien, sehingga waktu penyembuhan pasien menjadi lebih lama, resiko kehilangan darah yang lebih besar dan komplikasi yang lebih tinggi. Metode kedua yang saat ini menjadi standar penanganan dalam menangani AAA adalah metode operasi Endovaskular (Endovascular Aortic Repair / EVAR), dengan metode ini sayatan yang dihasilkan lebih kecil, atau bahkan tanpa sayatan sama sekali sehingga waktu penyembuhan pasien lebih cepat, resiko kehilangan darah lebih sedikit, komplikasi yang lebih sedikit, rasa nyeri di pasien lebih minimal dan waktu rawat di rumah sakit jadi lebih singkat.

Teknik EVAR sendiri adalah dengan cara memasukkan alat pengganti aorta yang mengalami kerusakan. Alat tersebut berupa stent graft (cangkok) yang dapat menjalankan peran aorta mengalirkan darah terutama ke area perut dan kedua kaki.

Skematik prosedur Endovascular Aortic Repair, penempatan stent graft (putih) dalam pembuluh darah aorta yang melebar

Selain diameter dari aorta yang melebar, yang harus diperhatikan juga adalah posisi dari pembuluh darah yang letaknya berdekatan dengan AAA tersebut. Pembuluh darah yang menyuplai ke Ginjal kiri dan kanan (Arteri Renalis) adalah pembuluh darah yang harus selalu dilihat jaraknya dari AAA, hal ini terutama pada saat melakukan pemasangan stent graft pada prosedur EVAR, seringkali karena terlalu dekat jarak nya sehingga aliran darah ke ginjal bisa tertutup dan menyebabkan komplikasi berupa tidak berfungsinya ginjal karena aliran darahnya tertutup dengan stent graft untuk menutup AAA.

Pada prosedur EVAR dengan AAA yang jaraknya terlalu dekat dengan pembuluh darah ginjal, maka harus dilakukan prosedur tambahan untuk menyelamatkan aliran darah yang menyuplai darah ke ginjal dengan cara dilakukan pemasangan stent graft pada pembuluh darah ginjal (Arteri Renalis), hal ini yang disebut dengan nama Chimney-EVAR (ChEVAR). Prinsipnya dengan pemasangan stent graft di Arteri Renalis yang menyuplai darah ke ginjal sehingga ginjal akan tetap berfungsi normal dan sekaligus dapat mengatasi AAA.

Skematik Prosedur Chimney EVAR, penempatan stent graft ke pembuluh darah ginjal kiri dan kanan

Prosedur Chimney EVAR ini sendiri merupakan suatu Operasi Endovaskular yang mutakhir dan kompleks karena memerlukan stent graft (cangkok) dan peralatan yang lebih banyak daripada prosedur EVAR biasa. Tingkat kesulitan juga lebih tinggi karena diperlukan prosedur tambahan yaitu harus mengkanulasi pembuluh darah ginjal kiri dan kanan dari pembuluh darah di lengan tangan kiri.

Prosedur EVAR untuk pasien AAA sendiri pertama kali dilakukan di ruangan Cath-Lab Instalasi IBS RS. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado pada tahun 2018, dan sejak saat itu sudah menjadi prosedur standar yang dilakukan untuk menangani pasien dengan AAA di RSUP Kandou. Namun, untuk prosedur Chimney-EVAR sendiri baru pertama kali dilakukan pada 7 Mei 2021, pada pasien laki-laki 67 tahun dengan AAA yang letaknya dekat pembuluh darah ginjal (Juxta Renal Aneurisma Aorta Abdominal), prosedurnya sendiri berjalan lancar dengan waktu kurang lebih 3 jam yang dilakukan oleh Tim bedah vaskular Manado yang diketuai oleh dr. Richard Sumangkut, SpB.SubBVE, dan tim yang terdiri dari dr. Djony Tjandra, SpB.SubBVE, dr. Billy Karundeng, SpB.SubBVE, dr. Yuansun Khosama, SpB.SubBVE dan dr. Steve Tangel, SpB. Prosedur Chimney EVAR yang dilakukan di RS. Kandou Manado ini sendiri merupakan prosedur pertama yang dilakukan di Indonesia Timur, karena itu hadir ikut turut membantu juga dr. Raden Suhartono, SpB.SubBVE, Staf Medis Fungsional Divisi Bedah Vaskular dari Departemen Bedah RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Tentunya untuk melakukan prosedur Chimney EVAR sendiri memerlukan alat medis yang mutakhir dan cukup mahal dari segi pembiayaan, untuk itu Tim bedah Vaskular RSUP Prof. R. D. Kandou Manado sangat bersyukur karena mendapat dukungan penuh dari Dirut RSUP Kandou DR.dr. Jimmy Panelewen, SpB-KBD dan jajaran Direksi yang telah memberikan dukungan penuh untuk melakukan tindakan tersebut sampai bisa terlaksana. Harapan kedepannya dengan dukungan penuh dari RSUP Kandou, Tim Bedah Vaskular akan terus melakukan terobosan dalam penanganan penyakit vaskular perifer guna memenuhi kebutuhan pelayanan di rumah sakit yang akan menuju rumah sakit dengan standar Internasional.(andre)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.