VOXSULUT – Ragu Manfaat AI: Survei terbaru yang dipimpin oleh Cambridge Industrial Innovation Policy (CIIP) menunjukkan kekhawatiran masyarakat Indonesia terhadap kecerdasan buatan (AI). Sebagian besar responden di Indonesia, Malaysia, dan Kamboja mengaku masih ragu dan takut dengan perkembangan teknologi ini.
Sebaliknya, warga Vietnam, Thailand, dan Singapura justru lebih optimis. Mereka melihat AI sebagai peluang yang dapat membawa manfaat besar dalam kehidupan sehari-hari.
“Baca Juga: 13 Jenis Kamera CCTV Populer untuk Keamanan Rumah dan Kantor“
Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru ulasan, rekomendasi, dan seputar dunia hiburan, Games, teknologi dan kesehatan baik lokal, nasional, maupun internasional, kamu bisa join di Channel WA VoxSulut.com dengan KLIK DI SINI.
Tingkat Kepercayaan di Asia Tenggara Masih Rendah
Survei CIIP mencatat bahwa hanya 33 persen warga Asia Tenggara percaya bahwa AI akan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Persentase ini lebih rendah dari rata-rata global yang berada di angka 39 persen.
Laporan ini juga memperlihatkan perbedaan yang signifikan dalam persepsi antar negara. Tingkat optimisme masyarakat di negara dengan inklusi digital tinggi cenderung lebih besar.
Survei Melibatkan 121 Negara dan Ribuan Responden
Tim CIIP melibatkan 121 negara dalam riset ini. Mereka bekerja sama dengan Lloyd’s Register Foundation dan UNIDO (Organisasi Pengembangan Industri PBB).
Sumber data juga mencakup World Risk Poll, yang berisi persepsi risiko dari sekitar 120 ribu responden.
Carlos López-Gómez, peneliti dari CIIP, menyebut bahwa timnya juga mempelajari AI dari sisi perdagangan digital, ketenagakerjaan, dan kebijakan industri.
Perempuan di Asia Tenggara Lebih Pesimis Terhadap AI
Laporan CIIP dan UNIDO menunjukkan bahwa perempuan di Asia Tenggara lebih pesimis terhadap AI dibanding laki-laki.
Di wilayah dengan tingkat inklusi digital rendah seperti Kamboja, kesenjangan gender dalam optimisme AI menjadi yang paling besar.
Data global mencatat bahwa 42 persen laki-laki dan 35 persen perempuan yakin AI akan membawa manfaat dalam 20 tahun ke depan.
Namun di Asia Tenggara, angka ini menurun menjadi 36 persen untuk laki-laki dan 30 persen untuk perempuan.
Pencurian Data Jadi Kekhawatiran Utama di Asia Tenggara
Lebih dari 80 persen responden di Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam mengaku khawatir terhadap pencurian data pribadi.
Tiga negara, termasuk Indonesia, juga mencatat kekhawatiran tinggi terhadap penyalahgunaan data oleh pemerintah.
Peningkatan kasus kejahatan siber seperti penipuan dan kebocoran data turut memperburuk situasi.
Kepercayaan publik terhadap transaksi digital pun ikut menurun, yang kemudian berdampak pada lambatnya pertumbuhan perdagangan digital di kawasan.
Marco Kamiya Tekankan Perlunya Keseimbangan Regulasi dan Inovasi
Marco Kamiya dari UNIDO menegaskan pentingnya perlindungan data pribadi dalam era digital. Ia mengatakan bahwa keamanan data seperti e-commerce, cloud, data medis, dan perbankan harus dijamin melalui infrastruktur teknologi yang kuat.
Menurutnya, Indonesia perlu menerapkan Kerangka Regulasi Berbasis Risiko. Sistem ini membagi teknologi AI berdasarkan tingkat risikonya, dan memberikan ruang regulasi ringan bagi sektor-sektor produktif.
Marco menambahkan bahwa regulasi harus seimbang. Jika terlalu ketat, inovasi bisa terhambat. Namun jika terlalu longgar, potensi bahaya juga meningkat.
Indonesia Harus Ikuti Standar Global dan Regional
Marco menyarankan agar sistem regulasi Indonesia mengacu pada standar internasional seperti ISO dan IEEE.
Namun di saat yang sama, sistem tersebut juga harus sejalan dengan kerangka kerja ASEAN.
Ia menekankan bahwa penyusunan regulasi harus didasarkan pada strategi nasional yang menggabungkan etika dan penerapan nyata di lapangan.
Ragu Manfaat AI: Tantangan AI di Asia Tenggara Perlu Pendekatan Holistik
Hasil riset CIIP menunjukkan bahwa ketakutan terhadap AI masih kuat di sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Selain isu teknis, masalah sosial seperti ketimpangan gender, rendahnya inklusi digital, dan kurangnya kepercayaan publik harus menjadi perhatian utama.
Regulasi yang seimbang, inklusif, dan berpijak pada data yang kuat dapat menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan digital yang sehat dan inovatif.
Indonesia memiliki potensi besar di sektor digital, tetapi perlu kebijakan yang menyatukan keamanan, etika, dan kemajuan teknologi secara harmonis.
“Baca Juga: Saudi Pro League Resmi Izinkan 10 Pemain Asing per Klub“






