Mahasiswa UNS Ciptakan Irigasi IoT Hemat Air dan Energi

Berita, Teknologi157 Dilihat

VOXSULUT Tim mahasiswa Program D3 Teknik Informatika Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret mengembangkan sistem irigasi otomatis bernama Tandur.
Inovasi ini menyasar petani lahan kecil yang membutuhkan pengelolaan air lebih efisien.

Tim merancang Tandur berbasis Internet of Things atau IoT.
Sistem ini membantu petani mengatur penyiraman tanpa pengawasan terus-menerus.

Ketua tim, Fevy Sonia Puspita Lestari, memimpin pengembangan teknologi ini.
Ia menyebut Tandur sebagai solusi praktis untuk keterbatasan air dan energi.

“Baca Juga: NASA Uji Pesawat X-66, Langkah Baru Teknologi Penerbangan“

Cara Kerja Sistem Irigasi Tandur

Tandur memadukan sensor kelembapan tanah dan sensor suhu lingkungan.
Sensor tersebut mengirim data secara langsung ke sistem pengendali.

Sistem kemudian menganalisis kebutuhan air tanaman.
Saat tanah terlalu kering, pompa air akan menyala otomatis.

Pompa berhenti bekerja ketika kelembapan sudah mencukupi.
Proses ini berjalan tanpa intervensi manual dari petani.

Dengan cara ini, penyiraman menjadi lebih tepat sasaran.
Tanaman menerima air sesuai kebutuhan aktual.

Mandiri Energi dengan Panel Surya

Keunggulan utama Tandur terletak pada sumber energinya.
Sistem ini sepenuhnya menggunakan panel surya.

Panel surya menyuplai daya untuk sensor dan pompa air.
Tandur tidak bergantung pada jaringan listrik konvensional.

Konsep ini memudahkan penerapan di wilayah terpencil.
Petani tetap bisa menggunakan teknologi meski akses listrik terbatas.

Pendekatan ini juga menekan biaya operasional.
Petani tidak perlu mengeluarkan biaya listrik tambahan.

Pemantauan Lahan Lewat Dashboard Digital

Selain otomatis, Tandur menyediakan dashboard berbasis web.
Dashboard ini bisa diakses melalui ponsel atau komputer.

Petani dapat memantau kondisi lahan dari jarak jauh.
Informasi yang tampil meliputi kelembapan tanah dan suhu udara.

Dashboard juga menampilkan status pompa air.
Dengan data ini, petani dapat mengambil keputusan lebih cepat.

Teknologi ini memberi kontrol penuh kepada pengguna.
Pemantauan menjadi lebih mudah dan efisien.

Penghematan Air Hingga 30 Persen

Tim melakukan pengujian langsung di lapangan.
Hasil pengujian menunjukkan penghematan air sekitar 30 persen.

Efisiensi ini muncul karena sistem bekerja berbasis data.
Tandur hanya menyalurkan air saat tanaman benar-benar membutuhkan.

Metode ini berbeda dari penyiraman manual.
Petani biasanya menyiram berdasarkan perkiraan waktu.

Dengan Tandur, pemborosan air bisa ditekan.
Penggunaan air menjadi lebih berkelanjutan.

Kolaborasi Kampus dan Industri

Pengembangan Tandur menjadi bagian dari program hibah magang UNS.
Program ini mendorong mahasiswa menciptakan inovasi aplikatif.

Tim mendapat pendampingan dari PT Stechoq Robotika Indonesia.
Pendampingan fokus pada perangkat keras dan sistem IoT.

Kolaborasi ini memberi pengalaman praktis bagi mahasiswa.
Hasilnya berupa teknologi siap terapan di sektor pertanian.

Solusi Ramah Lingkungan untuk Pertanian

Dari sisi lingkungan, Tandur mendukung pertanian berkelanjutan.
Pemanfaatan energi surya mengurangi dampak emisi karbon.

Pengendalian air berbasis data juga menjaga sumber daya alam.
Teknologi ini membantu petani menghadapi perubahan iklim.

Tandur menunjukkan peran teknologi digital di sektor pertanian.
Inovasi mahasiswa UNS ini membuka peluang pertanian yang lebih adaptif.

“Baca Juga: Live Streaming Villarreal vs Barcelona La Liga 21 Desember“

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *