Pasien gagal ginjal di Indonesia lebih mengenal hemodialisis atau cuci darah. Banyak pasien belum mengetahui terapi lain seperti CAPD.
Ketua Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia, Tony Richard Samosir, menyoroti kondisi tersebut. Ia menyebut banyak pasien baru mengetahui pilihan lain setelah bertahun-tahun menjalani hemodialisis.
Selain itu, Tony menilai pasien belum menerima informasi yang lengkap sejak awal diagnosis. Padahal, pasien berhak menentukan metode pengobatan sesuai kondisi mereka.
“Baca Juga: Tips Mudik Sehat bagi Penderita Asam Urat“
-
Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru ulasan, rekomendasi, dan seputar dunia hiburan, Games, teknologi dan kesehatan baik lokal, nasional, maupun internasional, kamu bisa join di Channel WA VoxSulut.com dengan KLIK DI SINI.
-
Sosial Media Tiktok Berita Kostum Baru Spider-Man
-
Berita Kostum Baru Spider-Man di Instragram Voxsulut.com
Mayoritas Pasien Langsung Pilih Hemodialisis
Tony menjelaskan sekitar 98 persen pasien langsung menjalani hemodialisis. Sementara itu, terapi lain seperti CAPD atau transplantasi jarang dijelaskan secara menyeluruh.
Kondisi ini membuat pasien tidak memiliki banyak pilihan sejak awal. Mereka cenderung mengikuti metode yang paling umum tersedia.
Selain itu, banyak fasilitas kesehatan lebih fokus pada layanan hemodialisis. Akibatnya, pasien semakin jarang mengenal alternatif terapi lain.
Penyakit Ginjal Sering Tidak Terdeteksi Sejak Awal
Penyakit ginjal kronik berkembang tanpa gejala yang jelas. Karena itu, banyak orang tidak menyadari kondisi tersebut sejak awal.
Sebagian besar pasien baru mengetahui penyakitnya saat memasuki stadium lanjut. Pada tahap ini, fungsi ginjal sudah menurun drastis.
Data menunjukkan sekitar 90 persen pasien tidak menyadari penyakitnya lebih awal. Mereka biasanya membutuhkan dialisis atau transplantasi untuk bertahan hidup.
Jumlah pasien gagal ginjal di Indonesia terus meningkat. Pada 2023, jumlahnya mencapai sekitar 1,5 juta orang.
Beban Biaya Dialisis Terus Meningkat
Peningkatan jumlah pasien berdampak pada biaya layanan kesehatan. BPJS Kesehatan menanggung biaya dialisis yang terus meningkat setiap tahun.
Pada 2019, biaya dialisis mencapai sekitar Rp6,5 triliun. Kemudian, angka tersebut naik menjadi sekitar Rp11 triliun pada 2024.
Selama periode 2022 hingga 2024, lebih dari 134 ribu pasien menjalani hemodialisis. Angka ini menunjukkan dominasi metode tersebut dalam layanan kesehatan.
CAPD Tawarkan Fleksibilitas bagi Pasien
CAPD menghadirkan metode yang berbeda dari hemodialisis. Pasien dapat menjalani terapi secara mandiri di rumah.
Pada metode ini, pasien memasukkan cairan khusus ke rongga perut melalui kateter. Cairan tersebut menyerap zat sisa dari darah.
Setelah beberapa jam, pasien mengganti cairan tersebut dengan yang baru. Proses ini dilakukan tiga hingga empat kali setiap hari.
Dengan cara ini, pasien memiliki fleksibilitas lebih besar. Mereka tetap dapat bekerja dan menjalani aktivitas harian.
Selain itu, pasien tidak perlu sering datang ke rumah sakit. Mereka hanya perlu kontrol rutin sekitar satu kali setiap bulan.
Perbandingan Biaya CAPD dan Hemodialisis
Pemerintah telah mengatur biaya terapi CAPD dalam regulasi terbaru. Biaya CAPD mencapai sekitar Rp8 juta per bulan.
Biaya tersebut mencakup bahan medis, layanan dokter, dan distribusi alat ke rumah pasien.
Sementara itu, biaya hemodialisis dihitung per sesi. BPJS menanggung sekitar Rp820 ribu hingga Rp1,2 juta setiap sesi.
Jika pasien menjalani dua sesi per minggu, biaya bulanan cukup besar. Total biaya berkisar antara Rp6,5 juta hingga Rp9,6 juta.
Selain itu, pasien juga menanggung biaya transportasi dan kebutuhan lain. Hal ini membuat CAPD menjadi alternatif yang kompetitif.
Edukasi Terapi Masih Perlu Ditingkatkan
Pemanfaatan CAPD di Indonesia masih rendah. Pemerintah menargetkan minimal 10 persen pasien menggunakan metode ini.
Target tersebut bertujuan meningkatkan efisiensi layanan kesehatan. Selain itu, pemerintah ingin mengurangi ketergantungan pada mesin hemodialisis.
Namun, edukasi menjadi tantangan utama dalam penerapan CAPD. Banyak pasien belum mendapatkan penjelasan lengkap tentang pilihan terapi.
Di negara lain, pasien menerima informasi menyeluruh sebelum memulai dialisis. Mereka dapat membandingkan metode dan memilih sesuai kebutuhan.
Sebaliknya, di Indonesia proses edukasi belum merata. Karena itu, pasien sering tidak mengetahui semua opsi yang tersedia.
Pasien Butuh Informasi untuk Menentukan Pilihan
Pasien gagal ginjal membutuhkan informasi yang jelas sejak awal. Informasi tersebut membantu mereka memilih metode pengobatan yang tepat.
Tony menegaskan pentingnya edukasi dalam layanan kesehatan. Ia berharap tenaga medis memberikan penjelasan lengkap kepada setiap pasien.
Dengan edukasi yang baik, pasien dapat mengambil keputusan secara mandiri. Selain itu, mereka juga dapat menjalani hidup dengan kualitas yang lebih baik.
“Baca Juga: Prediksi Arsenal vs Leverkusen: Duel Penentu 16 Besar UCL“






