BRIN Kembangkan Teknologi Canggih Deteksi Kecurangan Pangan

VOXSULUT Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat keamanan pangan di Indonesia. Salah satu langkahnya yaitu mengembangkan teknologi deteksi food fraud atau kecurangan pangan.

Peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Laila Rahmawati, menjelaskan bahwa food fraud merupakan tindakan manipulasi produk pangan untuk memperoleh keuntungan ekonomi.

Pelaku dapat mencampur, mengganti, atau memalsukan bahan pangan. Praktik tersebut muncul pada berbagai produk yang banyak dikonsumsi masyarakat.

“Baca Juga: Startup Global Uji Teknologi Pemantauan Laut Indonesia“

Food Fraud Muncul di Berbagai Produk Pangan

Laila menyebut praktik kecurangan pangan sering terjadi pada madu, kopi, minyak goreng, daging, dan hasil laut.

Beberapa pelaku mencampur madu dengan sirup gula untuk menekan biaya produksi. Selain itu, pelaku juga mencampur kopi murni dengan jagung atau kedelai.

Kasus lain juga terjadi pada produk daging. Pelaku menjual daging non-halal dengan label daging sapi. Sementara itu, sebagian produsen memberikan label yang tidak sesuai pada produk organik.

Praktik tersebut tidak hanya merugikan konsumen. Namun, praktik itu juga dapat mengganggu kesehatan dan menurunkan kepercayaan masyarakat.

Banyak Faktor Mendorong Terjadinya Kecurangan Pangan

Menurut Laila, beberapa faktor meningkatkan risiko food fraud. Harga bahan baku yang mahal menjadi salah satu penyebab utama.

Selain itu, tingginya permintaan pasar juga mendorong sebagian pihak melakukan kecurangan. Pengawasan yang belum optimal ikut membuka peluang pelanggaran.

Di sisi lain, rantai distribusi pangan yang panjang membuat pengawasan menjadi lebih sulit. Rendahnya kesadaran konsumen juga memperbesar risiko tersebut.

Karena itu, berbagai pihak perlu meningkatkan perhatian terhadap keamanan pangan.

BRIN Gunakan Teknologi Modern untuk Deteksi Pangan

BRIN mengembangkan berbagai metode untuk mendeteksi kecurangan pangan. Peneliti menggunakan metode sederhana dan teknologi modern.

Metode sederhana meliputi pemeriksaan fisik, pengamatan produk, dan pengujian dasar. Sementara itu, teknologi modern mampu memberikan hasil yang lebih akurat.

BRIN memanfaatkan analisis DNA, spektroskopi, serta kecerdasan buatan atau AI. Teknologi tersebut membantu peneliti mengidentifikasi campuran bahan yang tidak sesuai.

Selain itu, teknologi tersebut juga membantu mendeteksi bahan non-halal pada produk pangan.

Riset BRIN Dukung Pengawasan dan Regulasi

BRIN tidak hanya mengembangkan teknologi deteksi. Lembaga tersebut juga menjalankan berbagai riset untuk memperkuat sistem pengawasan pangan nasional.

Peneliti mengembangkan metode identifikasi spesies pangan berbasis DNA. Mereka juga mengembangkan metode untuk mendeteksi campuran minyak dan lemak yang tidak sesuai.

Selain itu, BRIN memanfaatkan machine learning untuk meningkatkan akurasi analisis pangan. Hasil riset tersebut mendukung penyusunan kebijakan dan regulasi pemerintah.

Kolaborasi Jadi Kunci Pencegahan Food Fraud

BRIN terus memperluas kerja sama dengan industri pangan, perguruan tinggi, dan pemerintah. BRIN juga menjalin kolaborasi dengan BPOM untuk mempercepat penerapan teknologi deteksi.

Menurut Laila, pencegahan food fraud membutuhkan peran semua pihak. Pemerintah, industri, akademisi, peneliti, dan konsumen harus bekerja bersama.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih teliti saat membeli produk pangan. Konsumen perlu memeriksa label, izin edar, dan sertifikat halal.

Selain itu, masyarakat sebaiknya tidak mudah tergiur harga yang terlalu murah. Dengan langkah tersebut, konsumen dapat mengurangi risiko menjadi korban kecurangan pangan.

BRIN berharap pengembangan teknologi autentikasi pangan dapat menciptakan sistem pangan yang aman, berkualitas, dan terpercaya bagi seluruh masyarakat Indonesia.

“Baca Juga: Faktor yang Menekan Harga Pi Network pada 2026“

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *