Film Lemah Santet Ganti Judul Jadi Pembantaian Dukun

Bioskop, Film1021 Dilihat

VOXSULUT Film horor Indonesia kembali memancing perdebatan. Judul awal film ini adalah Lemah Santet, namun kini berubah menjadi Pembantaian Dukun Santet. Perubahan ini terjadi setelah munculnya protes dari masyarakat Banyuwangi yang merasa daerah mereka tercemar.

“Baca Juga: 10 Film Indonesia Terlaris, Jumbo Tempati Posisi Puncak“

Judul Film Lemah Santet Diganti Usai Tuai Kontroversi

Banyak pihak menilai film tersebut mencoreng nama baik Banyuwangi dan meminta penghapusan kata “Lemah” yang berarti “desa” dalam Bahasa Osing.

Menanggapi hal itu, sutradara Azhar Kinoi Lubis mengganti judul film menjadi Pembantaian Dukun Santet. Film ini mulai tayang di seluruh bioskop Indonesia pada 8 Mei 2025.

Diangkat dari Thread Viral “Di Ambang Kematian”

Film ini terinspirasi dari thread horor karya Jeropoint yang berjudul Di Ambang Kematian. Cerita berfokus pada kejadian kelam di Banyuwangi pada tahun 1998. Saat itu, terjadi aksi pembunuhan terhadap dukun santet dan sejumlah ustadz oleh orang-orang misterius berpakaian ninja.

Alur film mengikuti sudut pandang beberapa santri di sebuah pesantren. Mereka menjadi saksi langsung dari peristiwa berdarah yang tak banyak dicatat dalam sejarah nasional.
Kevin Ardilova dan Aurora Ribero menjadi dua pemeran utama dalam film ini.

Netizen Beri Respon Beragam

Unggahan Facebook dari akun Moviezy memicu diskusi ramai. Netizen menyampaikan pandangan mereka tentang isi dan judul film.

Edi Setiabudi menyarankan agar film tidak perlu menggunakan unsur hantu seperti pocong. Ia menganggap genre crime thriller tanpa elemen gaib akan terasa lebih kuat dan realistis.

Lain halnya dengan Fatim Siifa. Ia justru mendukung penggambaran santet di daerah tersebut. Fatim menyebut ayahnya pernah menjadi korban santet karena persaingan dagang.

Andri Reskiawan Daeng, warga Banyuwangi, menceritakan pengalamannya secara langsung. Ia menyebut banyak kejadian santet di masa kecilnya, termasuk serangan terhadap ibunya yang membuat wajah sang ibu berubah drastis.

Komentar lain datang dari Puji Prasetyõ. Ia menyatakan bahwa kisah nyata dalam film biasanya memberikan dampak emosional yang lebih besar. Puji juga menjelaskan, para pelaku membunuh dukun dengan cara keji, termasuk memenggal kepala mereka.

Film Horor dengan Latar Sejarah yang Kelam

Film ini tak hanya menyuguhkan ketegangan, tetapi juga memotret sisi gelap sejarah lokal. Cerita yang diangkat menggambarkan kekacauan dan ketakutan yang melanda masyarakat saat itu.

Selain aspek horor, film ini juga mengangkat konflik sosial dan agama. Hal tersebut membuat cerita terasa lebih kompleks dan menantang secara emosional bagi penonton.

Masyarakat Banyuwangi Tunggu Eksekusi Film

Perubahan judul memang meredam sebagian kritik. Namun, masyarakat tetap menantikan bagaimana film ini menampilkan sisi faktual dan sensitivitas lokal.

Film Pembantaian Dukun Santet kini berada dalam sorotan publik. Banyak pihak penasaran apakah film ini akan menjadi karya horor berkelas atau justru menuai kontroversi lanjutan.


Kesimpulan: Film Lemah Santet Ganti Judul Jadi Pembantaian Dukun

Perubahan judul dari Lemah Santet menjadi Pembantaian Dukun Santet menandai komitmen pembuat film dalam merespons suara publik. Namun, tantangan sesungguhnya justru terletak pada penyajian cerita yang akurat, sensitif, dan tetap menarik di layar lebar.

“Baca Juga: 12 Kandidat Ballon dOr 2025, Dembele Jadi Favorit“

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *