BPOM Ungkap Bahaya Obat Palsu yang Mengancam Kesehatan

Berita, Kesehatan235 Dilihat

VOXSULUT Badan Pengawas Obat dan Makanan menarik peredaran obat palsu dari pasar nasional.
BPOM mengambil langkah ini demi melindungi keselamatan masyarakat.

Selain penarikan produk, BPOM mencanangkan Program Perkuatan Penanganan Obat dan Makanan Palsu.
Program ini memperkuat pengawasan sekaligus menekan peredaran produk ilegal.

BPOM menilai obat palsu masih beredar di berbagai wilayah.
Kondisi ini menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan publik.

BPOM juga menegaskan kerugian besar akibat obat palsu.
Konsumen dirugikan, pelaku usaha resmi terdampak, dan risiko kesehatan meningkat.

“Baca Juga: Waspada Virus Nipah di Asia, Ini Gejala dan Pencegahannya“


WHO Ingatkan Bahaya Obat Palsu bagi Kesehatan

Sejalan dengan BPOM, World Health Organization menyoroti bahaya obat palsu.
WHO memaparkan risiko tersebut melalui lembar fakta resmi.

WHO menyebut obat palsu dan substandar sebagai ancaman global.
Masalah ini dapat menyerang semua negara tanpa pengecualian.

Berikut sejumlah bahaya obat palsu yang perlu masyarakat waspadai.
Informasi ini membantu konsumen mengenali risikonya sejak dini.

BACA DAN LIHAT JUGA: Tribut Laksamana Muda TNI Purn Edi Sucipto, S E , M M , M Tr Opsla:

Tribut Laksamana Muda TNI Purn Edi Sucipto, S E , M M , M Tr Opsla – #IndonesiaHebatWajibKitaJaga


Obat Palsu Tidak Mengandung Zat Aktif

Obat palsu sering tidak mengandung zat aktif yang dibutuhkan tubuh.
Sebagian produk hanya mengandung zat aktif dalam jumlah sangat kecil.

Akibatnya, penyakit tidak tertangani dengan baik.
Kondisi pasien bahkan bisa memburuk karena pengobatan gagal.


Dosis Tidak Tepat dan Picu Overdosis

Sebagian obat palsu mengandung dosis yang tidak sesuai.
Dosis bisa terlalu rendah atau justru terlalu tinggi.

Kondisi ini meningkatkan risiko efek samping serius.
Dalam kasus tertentu, overdosis dapat mengancam nyawa pasien.


Kandungan Bahan Berbahaya Mengancam Organ Tubuh

WHO menemukan bahan beracun dalam sejumlah obat palsu.
Produsen ilegal sering memakai zat kimia industri atau bahan tercemar.

Paparan bahan tersebut merusak organ tubuh secara perlahan.
Risiko kerusakan meningkat jika konsumsi berlangsung lama.


Obat Palsu Dorong Resistensi Antimikroba

Antibiotik palsu berkontribusi pada resistensi antimikroba.
Bakteri menjadi kebal karena paparan obat dengan kualitas buruk.

Akibatnya, infeksi sulit diobati dengan obat standar.
Risiko kematian pun meningkat pada pasien rentan.


Risiko Kematian Tinggi pada Anak

Obat palsu untuk penyakit serius membawa dampak fatal.
Malaria dan infeksi berat sering menjadi contoh kasus.

WHO menegaskan anak-anak menghadapi risiko terbesar.
Banyak kematian sebenarnya bisa dicegah dengan obat asli.

“Baca Juga: Kontroversi Anfield: Guehi Lolos Kartu Merah vs Liverpool“


BPOM Imbau Masyarakat Lebih Waspada

WHO menyebut semua negara berisiko terdampak obat palsu.
Risiko meningkat di wilayah dengan akses obat terbatas.

BPOM mengimbau masyarakat membeli obat dari sarana resmi.
Masyarakat juga perlu memeriksa izin edar pada kemasan.

Selain itu, BPOM meminta masyarakat melapor jika menemukan dugaan obat palsu.
Pelaporan dapat dilakukan melalui kanal pengaduan resmi BPOM.

https://sanggau.pom.go.id/storage/hot-issue/hot-issue-Loka-POM-di-Kab.-Sanggau-169137621325.png
https://www.pom.go.id/storage/full/katabpom-thumbnail/1742349760545.png
https://img.harianjogja.com/posts/2023/11/09/1154471/ciri-ciri-obat-palsu.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *