VOXSULUT – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana pengembangan proyek pertahanan bernama Golden Dome.
Ia menilai proyek ini penting untuk melindungi Amerika Serikat dari ancaman serangan rudal.
Selain itu, Trump menyatakan kesiapan untuk mengakuisisi Greenland demi kelangsungan proyek tersebut.
Nilai akuisisi itu mencapai US$175 miliar atau sekitar Rp2.927 triliun.
Trump menegaskan bahwa proyek ini menyangkut kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat.
Oleh karena itu, ia mendorong dukungan dari berbagai pihak internasional.
“Baca Juga: Teknologi OceanX-BRIN Ungkap Paus Baru di Laut Indonesia“
-
Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru ulasan, rekomendasi, dan seputar dunia hiburan, Games, teknologi dan kesehatan baik lokal, nasional, maupun internasional, kamu bisa join di Channel WA VoxSulut.com dengan KLIK DI SINI.
-
Sosial Media Tiktok Berita Kostum Baru Spider-Man
-
Berita Kostum Baru Spider-Man di Instragram Voxsulut.com
Posisi Greenland Dinilai Sangat Strategis
Greenland merupakan wilayah otonomi milik Denmark yang berada di kawasan Arktik.
Wilayah ini terletak di antara Samudra Arktik dan Samudra Atlantik.
Selain itu, Greenland berada di jalur terpendek lintasan rudal balistik menuju Amerika Serikat.
Karena alasan tersebut, wilayah ini dianggap aset militer yang sangat penting.
Dengan posisi itu, Amerika Serikat bisa meningkatkan kemampuan deteksi ancaman sejak dini.
Akibatnya, sistem pertahanan dapat merespons lebih cepat dan lebih terkoordinasi.
Golden Dome Bukan Kubah Fisik Raksasa
Golden Dome tidak berbentuk kubah fisik seperti namanya.
Sebaliknya, sistem ini mengandalkan lapisan sensor dan jaringan komando terpadu.
Sistem tersebut berfungsi mendeteksi, melacak, dan merespons ancaman udara jarak jauh.
Dengan begitu, Golden Dome akan memperkuat pertahanan rudal balistik Amerika Serikat.
Selain itu, sistem ini menggabungkan berbagai aset pertahanan udara yang sudah ada.
Tujuannya yaitu menciptakan perlindungan berlapis tanpa celah.
THAAD Jadi Komponen Penting Golden Dome
Golden Dome akan mengintegrasikan sistem Terminal High Altitude Area Defense atau THAAD.
Sistem ini mampu mencegat rudal jelajah dan drone berukuran besar.
Dengan penggabungan berbagai sistem, Amerika Serikat meningkatkan efektivitas pertahanan udara.
Selain itu, koordinasi antar sistem memperkuat respons terhadap ancaman mendadak.
Trump menegaskan bahwa proyek ini membutuhkan dukungan aliansi internasional.
Ia secara khusus menyebut peran penting North Atlantic Treaty Organization atau NATO.
Golden Dome Dibandingkan dengan Sistem Israel
Konsep Golden Dome sering dibandingkan dengan sistem pertahanan milik Israel.
Salah satu contohnya yaitu sistem Arrow yang dikembangkan Israel dan Amerika Serikat.
Sistem Arrow mampu mendeteksi dan mencegat ancaman dari jarak jauh.
Israel mengoperasikan sistem ini bersama Iron Dome dan David’s Sling.
Iron Dome terkenal karena kemampuannya melindungi wilayah padat penduduk.
Namun, sistem ini tidak selalu mampu menahan semua serangan.
Serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 membuktikan keterbatasan sistem tersebut.
Beberapa proyektil tetap menembus pertahanan udara Israel.
Eropa Kembangkan Sky Shield Sendiri
Sementara itu, Eropa juga mengembangkan sistem pertahanan udara terpadu.
Pada 2022, 21 negara Eropa meluncurkan Inisiatif Sky Shield.
Inisiatif ini bertujuan melindungi kawasan Eropa dari ancaman rudal.
Beberapa negara, termasuk Jerman, menandatangani kontrak sistem Arrow.
Dengan langkah ini, Eropa berupaya memperkuat pertahanan regional secara kolektif.
Namun demikian, efektivitas sistem tetap bergantung pada koordinasi dan teknologi.
“Baca Juga: Benfica Singkirkan Real Madrid, Mourinho Masuk Radar Bernabeu“






