VOXSULUT – Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter. Partikel kecil ini kini menyebar luas di lingkungan.
Pada 2025, sejumlah lembaga menemukan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta, Solo, dan 11 kota di Jawa Timur. Temuan ini menunjukkan polusi plastik sudah masuk ke siklus udara dan air.
Selain itu, partikel ini terus bergerak melalui angin, air, dan aktivitas manusia. Akibatnya, manusia tidak bisa lagi menghindari paparan mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari.
“Baca Juga: ITS dan AAL Kembangkan Pusat Studi Drone Militer“
-
Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru ulasan, rekomendasi, dan seputar dunia hiburan, Games, teknologi dan kesehatan baik lokal, nasional, maupun internasional, kamu bisa join di Channel WA VoxSulut.com dengan KLIK DI SINI.
-
Sosial Media Tiktok Berita Kostum Baru Spider-Man
-
Berita Kostum Baru Spider-Man di Instragram Voxsulut.com
Sumber Mikroplastik Terus Bertambah
Industri tekstil sintetis menjadi salah satu penyumbang utama mikroplastik. Pakaian berbahan sintetis melepaskan serat kecil saat dicuci.
Selain itu, ban kendaraan berbahan karet sintetis ikut menyumbang partikel plastik melalui gesekan di jalan. Debu perkotaan juga membawa serpihan plastik yang sulit terlihat mata.
Di sisi lain, tren penggunaan plastik global terus meningkat. Masyarakat masih mengandalkan plastik sekali pakai karena murah dan praktis.
Produksi Plastik Global Melonjak Tajam
Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development dalam dokumen Policy Scenarios for Eliminating Plastic Pollution by 2040 mencatat lonjakan sampah plastik global.
Organisasi tersebut mencatat peningkatan sampah plastik dari 213 juta ton menjadi 460 juta ton sepanjang 2000 hingga 2019. Artinya, jumlahnya meningkat dua kali lipat dalam dua dekade.
Selain itu, tanpa kebijakan tegas, produksi plastik akan naik 70 persen. Angkanya melonjak dari 435 juta ton pada 2020 menjadi 736 juta ton pada 2040.
Kemudian, limbah plastik yang tidak terkelola dengan baik juga meningkat hampir 50 persen. Jumlahnya naik dari 81 juta ton per tahun pada 2020 menjadi 119 juta ton per tahun pada 2040.
Akibatnya, kebocoran plastik ke sungai, laut, dan daratan akan terus bertambah. OECD memproyeksikan kenaikan kebocoran hingga 50 persen dalam dua dekade.
Indonesia Menghadapi Tantangan Besar
Indonesia juga menghadapi masalah serius terkait sampah plastik. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional mencatat 41,07 juta ton sampah pada 2023.
Dari jumlah tersebut, 7,86 juta ton atau hampir 20 persen merupakan sampah plastik. Angka ini menunjukkan plastik menjadi kontributor besar timbunan sampah nasional.
Sementara itu, Asosiasi Industri Plastik Indonesia dan Badan Pusat Statistik mencatat produksi sampah plastik mencapai 64 juta ton per tahun.
Sebagian sampah memang masuk ke bank sampah atau fasilitas pengolahan. Namun, sebagian besar berakhir di tempat pembuangan akhir. Sisanya mencemari tanah, sungai, dan lautan.
Lautan Menanggung Dampak Terbesar
Laut menjadi tujuan akhir banyak sampah plastik. Pada 2025, rasio plastik terhadap ikan di laut diperkirakan mencapai satu banding tiga.
Jika tren ini terus berlanjut, pada 2050 jumlah plastik diproyeksikan melampaui jumlah ikan. Kondisi ini mengancam ekosistem laut dan mata pencaharian nelayan.
Selain itu, hewan laut sering menelan plastik karena mengira sebagai makanan. Akibatnya, rantai makanan laut ikut tercemar mikroplastik.
Mikroplastik Masuk ke Dalam Tubuh Manusia
Kajian Ecological Observation and Wetland Conservation menemukan mikroplastik dalam darah manusia. Penelitian ini menunjukkan partikel plastik sudah masuk ke sistem tubuh.
Partikel tersebut masuk melalui tiga jalur utama. Manusia menghirup partikel melalui udara. Manusia menelan partikel melalui makanan dan minuman. Kulit juga menyerap partikel dari paparan lingkungan.
Karena itu, paparan mikroplastik menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan jangka panjang.
Pemerintah dan Produsen Harus Bertindak
Greenpeace Indonesia mendorong pemerintah memperbaiki sistem pengelolaan sampah berbasis pemilahan. Selain itu, pemerintah perlu memperluas larangan plastik sekali pakai.
Pemerintah juga perlu melarang mikroplastik primer dalam produk tertentu. Kemudian, pemerintah harus mendorong sistem kemasan guna ulang.
Di sisi lain, produsen wajib mengurangi produksi plastik sekali pakai secara signifikan. Produsen perlu beralih ke kemasan guna ulang dan isi ulang.
Selain itu, produsen harus membuka informasi komposisi plastik dalam produknya. Produsen juga perlu menyusun peta jalan pengurangan sampah yang jelas.
Dengan langkah tersebut, pemerintah dan pelaku industri dapat menekan laju polusi plastik. Jika semua pihak bergerak bersama, masyarakat bisa melindungi lingkungan dan kesehatan generasi mendatang.






