Teknologi Roket Murah Lawan Drone Kamikaze Modern

Berita, Teknologi98 Dilihat

 VOXSULUT Pasukan Amerika Serikat mengerahkan jet tempur F-16 saat menghadapi kelompok Houthi di Yaman. Mereka menjalankan misi penting untuk menghentikan serangan drone dan roket.

Skuadron ini membawa senjata baru bernama APKWS AGR-20. Senjata tersebut membantu mereka menghancurkan hingga 108 target di udara.

Saat itu, drone kamikaze terus mengincar kapal perang Amerika. Oleh karena itu, pasukan udara harus bertindak cepat dan tepat.

“Baca Juga: Misi DART NASA Ubah Orbit Asteroid Secara Nyata“

Ancaman Drone Iran Makin Sulit Dikendalikan

Situasi berubah ketika Amerika menghadapi Iran pada awal 2026. Iran mengirim banyak drone murah seperti Shahed dengan bahan peledak besar.

Drone tersebut memang mudah dihancurkan secara individu. Namun, serangan dalam jumlah besar membuat pertahanan kewalahan.

Selama ini, Amerika mengandalkan rudal mahal seperti Patriot dan Standard. Selain itu, jet tempur membawa rudal AIM-120 dan AIM-9.

Biaya satu rudal bisa mencapai ratusan ribu dolar. Karena itu, stok senjata cepat menipis saat menghadapi serangan massal.

APKWS Hadir sebagai Solusi Murah dan Efektif

Amerika kemudian mencari solusi yang lebih murah dan fleksibel. APKWS muncul sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut.

Senjata ini awalnya dirancang untuk menyerang target darat. Namun, militer mengubah fungsinya untuk menghancurkan drone di udara.

Dengan biaya lebih rendah, APKWS bisa diproduksi dalam jumlah besar. Selain itu, jet tempur dapat membawa lebih banyak roket sekaligus.

Perjalanan Panjang Pengembangan APKWS

Pengembangan APKWS dimulai sejak akhir 1990-an. Saat itu, militer ingin membuat senjata murah dengan teknologi penuntun.

Mereka menggunakan roket lama bernama Hydra 70 sebagai dasar. Roket ini berasal dari desain lama Mighty Mouse.

Kemudian, BAE Systems menambahkan sistem penuntun laser. Namun, desain awal gagal karena masalah getaran saat peluncuran.

Setelah itu, BAE melakukan perubahan besar pada desain. Mereka menempatkan sensor laser di bagian sayap roket.

Perubahan ini meningkatkan stabilitas dan akurasi. Hasilnya, roket mampu bekerja lebih baik dalam berbagai kondisi.

APKWS Mulai Digunakan dan Terus Dikembangkan

Korps Marinir Amerika mulai menggunakan APKWS pada 2014. Mereka memanfaatkannya untuk menyerang target darat dengan biaya lebih hemat.

Seiring waktu, militer melihat potensi baru dari senjata ini. Mereka mulai menggunakannya untuk menghadapi ancaman drone.

Ukraina juga menggunakan APKWS untuk menghadang serangan udara Rusia. Mereka bahkan berhasil menghancurkan rudal dan drone dengan roket ini.

Hingga awal 2026, BAE Systems telah memproduksi sekitar 100 ribu unit APKWS. Produksi besar ini menunjukkan kebutuhan yang terus meningkat.

Program Rahasia FALCO Tingkatkan Kemampuan

Militer Amerika mengembangkan APKWS melalui program rahasia bernama FALCO. Program ini fokus pada peningkatan kemampuan melawan drone.

Mereka memperbaiki sistem agar tetap akurat dalam cuaca buruk. Selain itu, mereka meningkatkan kemampuan membidik target bergerak cepat.

Pengembang juga menambahkan sistem penuntun tambahan berbasis inframerah. Fitur ini membantu roket menemukan target lebih cepat.

Dengan teknologi ini, pilot bisa menyerang beberapa drone secara berurutan. Mereka tidak perlu menunggu hasil satu tembakan.

Tantangan Baru dalam Perang Modern

Militer sebenarnya memiliki meriam 20 mm untuk melawan drone. Namun, metode ini memiliki risiko tinggi bagi pesawat.

Ledakan drone dapat menyebarkan serpihan berbahaya ke udara. Bahkan, Ukraina pernah kehilangan satu F-16 karena risiko tersebut.

Oleh sebab itu, militer lebih memilih roket jarak aman seperti APKWS. Senjata ini memberikan keseimbangan antara biaya dan efektivitas.

Dengan demikian, APKWS kini menjadi bagian penting dalam strategi perang modern.

“Baca Juga: Jadwal Liga Champions 18–19 Maret 2026 Live di MOJI“

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *