Mantan Producer Anthem Ungkap Penyebab Kegagalannya

Berita, Games, Info Game572 Dilihat

VOXSULUT – Mantan Producer: Anthem sempat digadang-gadang sebagai proyek besar dari BioWare. Namun kenyataannya, game ini justru menjadi salah satu karya yang mengecewakan. Padahal, BioWare dikenal sebagai studio dengan deretan game single player sukses seperti Mass Effect dan Dragon Age.

“Baca Juga: Dead Island 3 Resmi Digarap, Lokasi Baru Segera Terungkap“

Mark Darrah Angkat Bicara

Mark Darrah, mantan producer BioWare, akhirnya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di balik kegagalan Anthem. Melalui kanal YouTube miliknya, ia membagikan video yang mengulas proses pengembangan game. Video ini menjadi seri kedua yang membahas apa yang terjadi pada periode 2017 hingga 2019.

Mark menuturkan bahwa tim yang mengembangkan Anthem sebenarnya adalah tim yang sama dengan Mass Effect 1–3. Tim tersebut sudah terbiasa bekerja bersama Casey Hudson dan sangat memahami cara membuat game single player dengan cerita yang kuat. Namun, masalah besar muncul ketika mereka mencoba membawa pengalaman itu ke dalam format multiplayer dan live-service.

Masalah Konsep Multiplayer dan Cerita

Menurut Mark, tim tidak memahami perbedaan mendasar antara game single player dan live-service. Cerita di Anthem gagal memberikan pengalaman yang konsisten karena kehadiran pemain lain di dalam permainan. Kehadiran pemain tambahan sering mengacaukan jalan cerita. Akibatnya, game kehilangan arah sebagai sebuah pengalaman naratif.

Selain itu, keseimbangan permainan jangka panjang di game live-service jauh lebih penting dibandingkan game single player. Namun, tim pengembang tidak mempertimbangkan hal ini sejak awal. Hal tersebut membuat Anthem sulit bertahan dalam jangka panjang.

Permasalahan Komunikasi Internal

Mark juga mengungkap masalah komunikasi yang fatal setelah Casey Hudson meninggalkan BioWare. Tanpa arahan jelas, tim pengembang kehilangan fokus. Ketika Mark mengambil alih sebagai executive producer, ia mencoba membuat keputusan besar. Namun masalah tetap muncul karena perbedaan visi antar studio.

Mark bercerita bahwa saat ia bergabung, Anthem hanya memiliki satu misi bernama Den of Wolves. Ia berusaha mendorong tim membuat misi tambahan. Sayangnya, tim justru mengulang hal lama tanpa memahami alasan mengapa konten Anthem terasa membosankan bagi pemain.

Konflik Dua Studio BioWare

Permasalahan semakin rumit karena adanya konflik antara BioWare Austin dan Edmonton. Studio Edmonton merasa skeptis terhadap pekerjaan tim Austin. Ketika Mark bergabung dengan tim Edmonton, ia gagal memahami situasi di Austin.

Tim Austin sebenarnya menginginkan kepemimpinan yang memikirkan ekonomi dalam game serta konten endgame. Namun, Mark baru menyadari hal itu ketika sudah terlambat. Akibatnya, Anthem kekurangan konten menarik untuk pemain jangka panjang.

Fitur Terbang Jadi Sorotan

Mark menambahkan bahwa masalah lain datang dari fitur terbang. Fitur ini sempat menjadi daya tarik utama bagi gamer. Namun, tim sempat menghapusnya dari game. Ketika fitur itu akhirnya kembali, para pemain sudah tidak lagi peduli. Hal ini semakin memperburuk citra Anthem di mata komunitas.

Penutupan Server Jadi Akhir Perjalanan

Dengan berbagai masalah tersebut, Anthem akhirnya gagal memenuhi ekspektasi pemain dan publisher. Tidak mengherankan jika BioWare kini memutuskan menutup server resmi. Penutupan dijadwalkan berlangsung pada 12 Januari 2026.

Keputusan ini menandai akhir perjalanan salah satu proyek paling ambisius dalam sejarah BioWare. Namun, pengalaman ini juga menjadi pelajaran berharga bagi industri game tentang pentingnya komunikasi, arah pengembangan, dan pemahaman mendalam terhadap konsep permainan.

“Baca Juga: Florian Wirtz Kesulitan Adaptasi, Liverpool Mulai Cemas“

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *