VOXSULUT – SpaceX kembali menunda uji terbang Starship untuk kedua kalinya dalam dua hari terakhir. Perusahaan itu kini menjadwalkan peluncuran pada Kamis sore waktu Amerika Serikat.
Jika dikonversi ke Indonesia, peluncuran berlangsung pada Jumat pagi, 22 Mei 2026. SpaceX sebelumnya menargetkan peluncuran pada Selasa, lalu menggesernya ke Rabu.
Perusahaan akan meluncurkan roket dari fasilitas Starbase di Texas selatan. Lokasi tersebut menjadi pusat pengembangan utama program Starship.
“Baca Juga: BRIN dan BNN Kembangkan AI Pendeteksi Ladang Ganja“
-
Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru ulasan, rekomendasi, dan seputar dunia hiburan, Games, teknologi dan kesehatan baik lokal, nasional, maupun internasional, kamu bisa join di Channel WA VoxSulut.com dengan KLIK DI SINI.
-
Sosial Media Tiktok Berita Kostum Baru Spider-Man
-
Berita Kostum Baru Spider-Man di Instragram Voxsulut.com
Starship V3 Jalani Penerbangan Suborbital
Pada misi kali ini, SpaceX akan menguji Starship Versi 3 atau V3. Roket tersebut akan melakukan penerbangan suborbital sebelum jatuh di Samudra Hindia.
SpaceX memperkirakan Starship menyentuh laut sekitar 65 menit setelah peluncuran. Sementara itu, roket pendorong Super Heavy akan jatuh lebih awal di Teluk Meksiko.
Super Heavy diperkirakan kembali ke laut sekitar tujuh menit setelah peluncuran. Roket itu bertugas memberikan dorongan awal saat lepas landas.
Starship V3 Jadi Roket Terbesar SpaceX
Starship V3 menjadi roket terbesar dan terkuat milik SpaceX saat ini. Tinggi total roket mencapai 124 meter.
Ukuran tersebut lebih tinggi dibanding Starship V2. Generasi sebelumnya memiliki tinggi sekitar 122,5 meter.
Roket raksasa ini terdiri dari dua bagian utama. SpaceX menggabungkan Super Heavy sebagai pendorong dan Starship sebagai kendaraan utama.
Selain lebih tinggi, Starship V3 juga menghasilkan tenaga lebih besar. Super Heavy mampu menghasilkan dorongan sekitar 8 juta kilogram.
Media sains bahkan menyebut tenaga itu hampir dua kali roket SLS milik NASA.
Mesin Baru Tingkatkan Performa Roket
SpaceX memakai mesin Raptor 3 untuk Starship V3. Mesin baru ini menggantikan generasi Raptor 2.
Super Heavy menggunakan 33 mesin Raptor 3 sekaligus. Sementara itu, Starship membawa enam mesin tambahan.
Mesin baru tersebut menghasilkan dorongan lebih besar dengan bobot lebih ringan. Karena itu, SpaceX dapat meningkatkan efisiensi roket secara keseluruhan.
Selain itu, SpaceX juga menyederhanakan banyak komponen mesin. Langkah tersebut membantu mengurangi berat total roket.
Perusahaan juga merancang ulang saluran bahan bakar utama. Desain baru membuat seluruh mesin bisa menyala lebih cepat dan stabil.
SpaceX Tingkatkan Sistem Kendali dan Avionik
SpaceX turut memperbarui sistem kendali Starship V3. Perusahaan ingin meningkatkan kemampuan arah dan stabilitas roket saat terbang.
Selain itu, SpaceX memasang sekitar 60 unit avionik baru. Sistem tersebut membantu distribusi daya listrik lebih efisien.
Perubahan lain juga terlihat pada bagian ekor roket. SpaceX mengurangi risiko kebocoran bahan bakar melalui desain yang lebih sederhana.
Sementara itu, sirip kisi pada Super Heavy juga berubah. Kini, roket hanya memakai tiga sirip dengan ukuran lebih besar.
SpaceX berharap desain tersebut mempermudah proses penggunaan ulang roket.
Starship V3 Siap Dukung Misi ke Bulan
SpaceX menyiapkan Starship V3 untuk misi luar angkasa jangka panjang. Perusahaan ingin memakai roket ini untuk pengisian bahan bakar di orbit.
Kemampuan itu sangat penting untuk perjalanan jauh dari orbit rendah bumi. Karena itu, SpaceX terus mempercepat pengembangan Starship.
Dalam waktu dekat, SpaceX juga ingin mendukung program Artemis milik NASA. Program tersebut bertujuan membawa astronaut kembali ke bulan.
NASA menargetkan misi Artemis 3 berlangsung pada akhir 2027. Program itu akan menguji prosedur docking di orbit rendah bumi.
BRIN Soroti Keunggulan Teknologi SpaceX
Kepala Pusat Riset Teknologi Roket BRIN, Arif Nur Hakim, menilai SpaceX memiliki kemampuan rekayasa luar biasa.
Menurutnya, pengembangan roket berukuran besar membutuhkan tantangan teknik yang jauh lebih rumit. Karena itu, SpaceX perlu sistem manufaktur dan pengujian yang sangat kuat.
Arif juga menyoroti kemampuan penggunaan ulang roket milik SpaceX. Menurutnya, teknologi tersebut menjadi keunggulan utama perusahaan.
Ia menilai sistem reusable membuat SpaceX lebih unggul dibanding banyak perusahaan antariksa lain.






