VOXSULUT – Ilmuwan AS Ciptakan Telur Manusia: Para peneliti dari Oregon Health & Science University (OHSU) mencatat pencapaian luar biasa di dunia medis.
Mereka berhasil mengubah sel kulit manusia menjadi telur atau oosit yang bisa membentuk embrio awal manusia.
Para peneliti memublikasikan penemuan ini dalam jurnal Nature Communications dan menjadikannya langkah besar menuju solusi baru infertilitas.
Temuan ini membuka peluang bagi banyak pasangan yang sulit memiliki anak karena faktor usia atau gangguan ovarium.
Dr. Paula Amato dari OHSU menjelaskan bahwa teknik ini juga memberi harapan bagi pasangan sesama jenis.
Mereka dapat memiliki anak dengan hubungan genetik dari kedua orang tua.
“Baca Juga: Elon Musk Kritik Netflix, Soroti Dampak Teknologi Streaming“
-
Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru ulasan, rekomendasi, dan seputar dunia hiburan, Games, teknologi dan kesehatan baik lokal, nasional, maupun internasional, kamu bisa join di Channel WA VoxSulut.com dengan KLIK DI SINI.
-
Sosial Media Tiktok Berita Kostum Baru Spider-Man
-
Berita Kostum Baru Spider-Man di Instragram Voxsulut.com
Peluang Baru untuk Mengatasi Infertilitas
Metode ini memberi solusi bagi wanita yang kehilangan kesuburan karena penyakit atau pengobatan kanker.
Para peneliti memperkirakan bahwa mereka membutuhkan waktu sekitar satu dekade untuk menyelesaikan penelitian ini sebelum penerapan klinis.
Mereka terus menguji keamanan dan efektivitas metode ini melalui berbagai uji lanjutan.
Dr. Amato menilai bahwa penelitian ini bisa menjadi dasar bagi pengembangan terapi reproduksi masa depan.
Dengan pendekatan ilmiah yang tepat, teknologi ini dapat mengubah cara manusia memahami kesuburan.
Mitomeiosis: Gabungan Dua Proses Penting
Tim yang dipimpin Dr. Shoukhrat Mitalipov memperkenalkan teknik baru bernama mitomeiosis.
Teknik ini menggabungkan dua proses pembelahan sel, yaitu mitosis dan meiosis, untuk menciptakan telur manusia.
Mitosis menghasilkan dua sel identik, sedangkan meiosis menciptakan sel reproduksi dengan separuh kromosom.
Dengan menggabungkan keduanya, peneliti dapat membuat telur dengan jumlah kromosom yang sesuai untuk pembuahan.
Proses Pembuatan Telur dari Sel Kulit
OHSU menggunakan teknik transplantasi inti sel somatik yang mirip dengan metode pembuatan domba Dolly pada 1997.
Namun, hasil dari metode ini berbeda karena embrio yang dihasilkan memiliki kromosom dari kedua orang tua.
Proses ini melibatkan tiga tahap penting:
-
Peneliti memindahkan inti sel kulit ke dalam telur donor yang intinya telah dihapus.
-
Sitoplasma telur donor memproses kromosom hingga tersisa 23 kromosom untuk membentuk telur haploid.
-
Peneliti membuahi telur tersebut menggunakan sperma lewat proses IVF untuk menghasilkan embrio diploid.
Dari 82 telur yang dibuat, sebagian besar berhenti berkembang pada tahap awal karena kelainan kromosom.
Hanya sekitar 9% embrio yang berhasil mencapai tahap blastokista pada hari keenam.
Tantangan dan Harapan di Masa Depan
Dr. Nuria Marti-Gutierrez menjelaskan bahwa keseimbangan kromosom sangat penting bagi keberhasilan proses ini.
Kesalahan jumlah kromosom dapat menghasilkan telur tidak normal yang tidak mampu berkembang dengan sehat.
Dr. Mitalipov menambahkan bahwa masalah seperti aneuploidy sering terjadi pada wanita berusia lanjut.
Ia menilai bahwa penelitian ini bisa membantu memahami penyebab alami kegagalan embrio pada manusia.
Ilmuwan AS Ciptakan Telur Manusia: Masa Depan Teknologi Reproduksi
Temuan ini menjadi langkah awal menuju in vitro gametogenesis (IVG), yaitu pembuatan sperma dan telur di laboratorium.
Teknologi ini memberi harapan bagi pasangan yang mengalami infertilitas atau ingin memiliki anak dengan ikatan genetik bersama.
Mitomeiosis menunjukkan potensi besar untuk menciptakan generasi baru dalam bidang reproduksi manusia.
Penelitian ini menandai awal era baru yang dapat mengubah pandangan dunia terhadap proses kehidupan dan kesuburan.






