Starlink Soroti Risiko Tabrakan Satelit Cina di Orbit Rendah

Teknologi170 Dilihat

VOXSULUT Wakil Presiden Bidang Teknik Starlink, Michael Nicolls, menyoroti peluncuran satelit baru milik Cina.

Ia menyampaikan komentar tersebut melalui media sosial X setelah peluncuran berlangsung.

Nicolls menilai satelit tersebut berpotensi mendekati satelit Starlink secara berbahaya.
Pernyataan ini langsung menarik perhatian komunitas antariksa global.

Isu ini muncul di tengah persaingan penguasaan orbit bumi rendah.
Amerika Serikat dan Cina terus memperbanyak satelit untuk memperkuat jaringan mereka.

“Baca Juga: Teknologi Sains Warga untuk Pantau Hayati Kalimantan“


Komentar Michael Nicolls Picu Perhatian Publik

Michael Nicolls mengarahkan komentarnya pada roket Kinetica-1 atau Lijian-1.
Roket tersebut membawa muatan satelit Cina ke ruang angkasa.

Peluncuran roket itu berlangsung pada Rabu, 10 Desember 2025.
Dalam konteks tersebut, Nicolls menilai operator satelit perlu berbagi data orbit secara terbuka.

Selain itu, ia menyebut kurangnya data dapat memicu situasi berbahaya.
Akibatnya, satelit bisa berada sangat dekat tanpa adanya peringatan awal.

Oleh karena itu, Nicolls menekankan pentingnya transparansi dalam aktivitas antariksa.
Dengan langkah tersebut, ia menilai risiko tabrakan dapat ditekan secara signifikan.


Satelit Starlink Didekati Objek Asing

Laporan PCMag mengungkap peristiwa mendekati tabrakan di orbit.
Satelit Starlink-6079 menjadi objek yang terdampak.

Satelit tersebut telah beroperasi lebih dari dua tahun.
Namun, sebuah objek asing tiba-tiba mendekati posisinya.

Objek itu teridentifikasi sebagai muatan dari roket Kinetica-1.
Kedua objek berada di orbit rendah bumi.


Jarak 200 Meter Jadi Rekor Terdekat

Titik temu kedua satelit terjadi di ketinggian sekitar 560 kilometer.
Jarak antara keduanya hanya sekitar 200 meter.

Catatan ini menjadi jarak terdekat dalam sejarah teknologi antariksa.
Para ahli menilai jarak tersebut sangat berbahaya.

Ilmu pergerakan satelit melarang jarak sedekat itu.
Situasi ini berpotensi memicu tabrakan serius.

Tabrakan dapat menciptakan serpihan berbahaya.
Serpihan itu bisa mengancam satelit lain di orbit.


CAS Space Beri Klarifikasi Resmi

CAS Space menanggapi komentar dari pihak Starlink.
Perusahaan tersebut menjadi penyedia layanan peluncuran satelit Cina.

CAS Space menjelaskan batas tanggung jawab mereka.
Mereka menyebut peran peluncur berakhir setelah satelit dilepas.

Setelah itu, operator satelit memegang kendali penuh.
Penyedia roket tidak mengatur manuver lanjutan.

Pernyataan ini bertujuan meluruskan tudingan publik.
CAS Space ingin memperjelas peran masing-masing pihak.


CAS Space Buka Komunikasi dengan Starlink

Meski demikian, CAS Space tetap merespons isu tersebut.
Perusahaan itu mengaku menjalin komunikasi dengan Starlink.

Mereka ingin mempelajari detail insiden yang dituduhkan.
Langkah ini bertujuan menjaga keselamatan orbit.

CAS Space menegaskan komitmen terhadap penggunaan ruang angkasa yang bertanggung jawab.
Mereka menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama.

Kasus ini menunjukkan meningkatnya risiko kepadatan orbit rendah.
Kerja sama internasional menjadi semakin penting.

Persaingan teknologi kini menuntut transparansi dan koordinasi.
Tanpa itu, risiko kecelakaan antariksa akan terus meningkat.

“Baca Juga: Update Medali SEA Games 2025: Indonesia Kokoh di Posisi Kedua“

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *