VOXSULUT – Badan antariksa Amerika Serikat, NASA, resmi meluncurkan teleskop eksoplanet Pandora.
Misi ini bertujuan memperkuat pencarian planet layak huni di luar Tata Surya.
Pandora akan bekerja bersama James Webb Space Telescope.
Dengan kolaborasi ini, ilmuwan menargetkan analisis atmosfer eksoplanet yang lebih akurat.
Baca Juga: ChatGPT Tunjukkan Lompatan Besar di Matematika Tingkat Tinggi“
-
Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru ulasan, rekomendasi, dan seputar dunia hiburan, Games, teknologi dan kesehatan baik lokal, nasional, maupun internasional, kamu bisa join di Channel WA VoxSulut.com dengan KLIK DI SINI.
-
Sosial Media Tiktok Berita Kostum Baru Spider-Man
-
Berita Kostum Baru Spider-Man di Instragram Voxsulut.com
Pandora Diluncurkan dari California
NASA meluncurkan Pandora pada 11 Januari 2026.
Roket SpaceX Falcon 9 membawa teleskop tersebut ke orbit.
Peluncuran berlangsung dari Vandenberg Space Force Base, California.
Setelah peluncuran, Pandora langsung mengorbit Bumi setiap 90 menit.
Fokus Mengamati Bintang Induk Eksoplanet
Pandora dirancang untuk memantau bintang induk eksoplanet secara mendetail.
Eksoplanet sangat sulit diamati karena cahayanya jauh lebih redup dari bintangnya.
Karena itu, pengamatan bintang induk menjadi kunci utama.
Pandora membantu ilmuwan memisahkan sinyal planet dari gangguan bintang.
Data Pandora kemudian digabungkan dengan data JWST.
Pendekatan ini memungkinkan analisis atmosfer planet menjadi lebih presisi.
Dengan cara ini, ilmuwan dapat membaca sinyal kimia secara lebih jelas.
Ilmuwan Ungkap Hambatan Besar Studi Eksoplanet
Profesor astronomi University of Arizona, Daniel Apai, menjelaskan tujuan utama teleskop Pandora.
Selain itu, ia memimpin langsung kelompok kerja sains eksoplanet dalam misi tersebut.
Menurut Apai, hingga saat ini data eksoplanet sering terganggu oleh aktivitas bintang.
Akibatnya, gangguan tersebut membatasi pemahaman ilmuwan terhadap planet berukuran kecil.
Lebih lanjut, Apai menyebut bintik bintang dan aktivitas magnetik sebagai sumber masalah utama.
Kedua fenomena ini kerap mengacaukan pembacaan data transit planet.
Dalam studi astronomi, kondisi ini dikenal sebagai efek sumber cahaya transit.
Oleh karena itu, Pandora hadir untuk mengurangi kesalahan interpretasi dan meningkatkan akurasi data.
Keunggulan Pandora Dibandingkan JWST
Pandora memiliki ukuran lebih kecil dibandingkan JWST.
Namun, teleskop ini unggul dalam pemantauan jangka panjang.
Pandora mampu mengamati satu bintang hingga 24 jam tanpa henti.
Teleskop ini menggunakan kamera cahaya tampak dan inframerah.
Selama satu tahun, Pandora akan kembali mengamati bintang yang sama hingga sepuluh kali.
Total waktu pengamatan bisa melebihi 200 jam untuk satu bintang.
Pendekatan ini membantu ilmuwan memahami perubahan kecerlangan bintang.
Selain itu, ilmuwan bisa melacak pergerakan bintik bintang secara detail.
Data Pandora dan JWST Digabungkan
Pandora mencatat variasi cahaya dan warna bintang.
Data ini menunjukkan bagaimana bintang memengaruhi sinyal planet.
JWST kemudian menganalisis transit planet secara mendalam.
Gabungan data ini menghasilkan gambaran atmosfer yang lebih bersih.
Dengan metode ini, ilmuwan berharap menemukan petunjuk lingkungan layak huni.
Analisis gas atmosfer menjadi lebih dapat diandalkan.
Langkah ini penting dalam pencarian tanda kehidupan di luar Bumi.
Tahap Pengujian dan Operasi Misi
Setelah peluncuran, Pandora menjalani pengujian sistem.
Perusahaan Blue Canyon Technologies menangani tahap ini.
Sekitar satu minggu kemudian, kendali misi akan berpindah tangan.
Pusat operasi akan berlokasi di Tucson.
Setelah itu, tim sains mulai menjalankan pengamatan penuh.
Pandora diharapkan membuka babak baru studi eksoplanet.
Misi ini memperluas peluang menemukan dunia yang mendukung kehidupan.
Baca Juga: Marseille vs Liverpool: Slot Ungkap Alasan Chiesa dan Konate Absen“









