VOXSULUT – Warga sekitar Refuse Derived Fuel Plant Rorotan mempertanyakan fungsi pemantauan kualitas udara di lingkungan mereka.
Alat tersebut seharusnya memantau polusi dan bau dari fasilitas pengolahan sampah.
Namun, warga menilai sistem itu tidak lagi berfungsi sejak Januari 2026.
Ketua Forum Warga Jakarta Garden City, Wahyu Andre Maryono, menyampaikan keluhan tersebut.
Ia menyebut alat pemantau bau dan polusi mati sejak 10 Januari 2026.
Akibatnya, warga masih mencium bau busuk sampah setiap hari.
“Baca Juga: Tesla Setop Model S dan X, Alihkan Fokus ke Robot Optimus“
-
Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru ulasan, rekomendasi, dan seputar dunia hiburan, Games, teknologi dan kesehatan baik lokal, nasional, maupun internasional, kamu bisa join di Channel WA VoxSulut.com dengan KLIK DI SINI.
-
Sosial Media Tiktok Berita Kostum Baru Spider-Man
-
Berita Kostum Baru Spider-Man di Instragram Voxsulut.com
Warga Mengaku Terus Mencium Bau Sampah
Andre mengatakan bau menyengat terus muncul dari arah RDF Rorotan.
Padahal, pengelola sebelumnya menjanjikan fasilitas itu tidak menimbulkan bau.
Kondisi tersebut memicu kemarahan warga di sekitar kawasan perumahan.
Selain itu, Andre menilai pengelola RDF dan Pemerintah Provinsi Jakarta bersikap acuh.
Ia menyebut warga telah merasakan dampak fasilitas tersebut selama satu tahun terakhir.
Namun, hingga kini, warga belum menerima solusi nyata.
Aksi Boikot Warga Terjadi Setiap Malam
Andre menyatakan warga melakukan aksi boikot selama sepekan terakhir.
Warga juga memblokade aktivitas RDF Rorotan pada malam hari.
Aksi tersebut menjadi bentuk protes atas bau yang terus muncul.
Ia juga menanggapi pernyataan Gubernur Jakarta.
Menurut Andre, sumber bau bukan berasal dari truk pengangkut sampah.
Ia meyakini bau berasal langsung dari aktivitas RDF Rorotan.
Warga Nilai Operasional RDF Tidak Sesuai Konsep
Selain masalah pemantauan udara, Andre menyoroti operasional RDF Rorotan.
Menurutnya, fasilitas RDF seharusnya tidak menimbulkan bau busuk.
Proses pemilahan dan pencacahan sampah seharusnya mengurangi bau secara signifikan.
Oleh karena itu, warga menilai ada kesalahan dalam pengoperasian fasilitas tersebut.
Mereka meminta evaluasi menyeluruh terhadap sistem RDF Rorotan.
Gubernur Jakarta Sebut Bau Berasal dari Truk Sampah
Sebelumnya, Pramono Anung menyampaikan pernyataan resmi terkait bau tersebut.
Ia berbicara di Taman Kelinci Roci, Cilincing, pada 30 Januari 2026.
Pramono menyebut sumber bau berasal dari truk pengangkut sampah.
Menurutnya, air lindi sering menetes dari truk saat pengangkutan.
Cairan tersebut tercecer di jalan dan menimbulkan bau menyengat.
Sementara itu, Pramono menilai kondisi RDF Rorotan relatif tidak bermasalah.
Oleh sebab itu, pemerintah daerah menyiapkan armada truk baru.
Langkah tersebut bertujuan mendukung operasional RDF secara lebih aman.
DLH Akui SPKU Tidak Beroperasi Sementara
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jakarta, Asep Kuswanto, mengakui SPKU tidak beroperasi.
Namun, ia menegaskan kondisi tersebut bukan karena kerusakan.
DLH melakukan uji kalibrasi lapangan untuk memastikan akurasi data.
Asep menjelaskan proses tersebut bertujuan mencegah kesalahan pembacaan data.
Menurutnya, kalibrasi penting sebelum data ditampilkan kepada publik.
Ia memastikan tidak ada penghentian pemantauan udara.
DLH Pasang Delapan Alat Pemantau Bau
Asep menyebut Dinas Lingkungan Hidup Jakarta memasang delapan SPKU sejak Desember 2025.
Seluruh alat tersebut berada di sekitar RDF Rorotan.
SPKU tersebut dilengkapi sensor pemantau bau di udara.
DLH juga mengambil sampel bau secara terstandar.
Laboratorium terakreditasi menguji sampel tersebut secara ilmiah.
Hasilnya akan disesuaikan dengan data SPKU sebelum publikasi penuh.
“Baca Juga: Viktor Gyokeres Ungkap Asal-Usul Selebrasi Ikoniknya“






