Misi DART NASA Ubah Orbit Asteroid Secara Nyata

Berita, Teknologi180 Dilihat

VOXSULUT –  NASA menjalankan misi DART pada September 2022. Tim sengaja menabrakkan wahana ke asteroid Dimorphos.

Aksi tersebut tidak hanya mengubah orbit Dimorphos. Penelitian terbaru juga menunjukkan perubahan pada sistem asteroid saat mengelilingi Matahari.

Hasil ini memberi bukti kuat bahwa manusia bisa memengaruhi pergerakan benda langit.

“Baca Juga: Roket Kairos Jepang Kembali Gagal dalam Peluncuran“

Sistem Asteroid Biner Bereaksi Terhadap Tabrakan

Dimorphos dan Didymos membentuk sistem asteroid biner. Keduanya saling mengorbit karena gaya gravitasi.

Selain itu, kedua asteroid berbagi satu pusat massa yang sama. Oleh sebab itu, perubahan pada satu asteroid langsung memengaruhi pasangannya.

Misi DART membuktikan hubungan tersebut secara nyata. Ketika Dimorphos berubah, Didymos juga ikut terdampak.

Orbit Mengelilingi Matahari Ikut Berubah

Penelitian yang terbit di jurnal Science Advances pada 6 Maret 2026 menunjukkan hasil penting. Periode orbit sistem asteroid itu berkurang 0,15 detik.

Perubahan ini terlihat kecil, namun tetap signifikan dalam jangka panjang. Sebelumnya, ilmuwan juga mencatat perubahan lain.

Dimorphos mempercepat orbitnya mengelilingi Didymos. Waktu orbitnya berkurang sekitar 33 menit dari total 12 jam.

Temuan ini menjadi bukti pertama bahwa objek buatan manusia memengaruhi orbit benda langit di sekitar Matahari.

Ilmuwan Jelaskan Dampak Kecil Bisa Jadi Besar

Peneliti utama Thomas Statler menjelaskan pentingnya temuan ini. Ia menyebut perubahan kecil dapat berkembang menjadi dampak besar.

Seiring waktu, perubahan kecil bisa mengubah jalur asteroid secara signifikan. Oleh karena itu, ilmuwan melihat potensi besar dari metode ini.

Selain itu, teknik benturan kinetik kini mendapat validasi tambahan. Metode ini bisa membantu manusia melindungi Bumi dari ancaman asteroid.

Benturan DART Menghasilkan Efek Berantai

DART menghantam Dimorphos dan menghasilkan awan besar serpihan batu.

Benturan itu juga mengubah bentuk asteroid.

Serpihan tersebut membawa momentum menjauh dari asteroid. Akibatnya, Dimorphos menerima dorongan tambahan.

Dorongan ini kemudian memengaruhi seluruh sistem asteroid. Perubahan tersebut meningkatkan kecepatan orbit sistem sekitar 11,7 mikrometer per detik.

Meskipun kecil, perubahan ini tetap mampu menggeser jalur asteroid dalam jangka panjang.

Perlindungan Bumi Bergantung pada Deteksi Dini

Peneliti utama Rahil Makadia menekankan pentingnya perubahan kecil tersebut. Ia menyebut perubahan kecil bisa menentukan tabrakan atau tidak.

Saat ini, Didymos tidak berada di jalur menuju Bumi. Namun, penelitian ini tetap memberi pelajaran penting bagi masa depan.

Ilmuwan menilai deteksi dini menjadi kunci utama. Dengan deteksi cepat, manusia bisa mengirim wahana penabrak lebih awal.

Sebagai langkah lanjutan, NASA sedang menyiapkan misi survei objek dekat Bumi.

Teleskop generasi baru ini akan mencari asteroid gelap dan komet sulit terlihat. Dengan begitu, manusia memiliki peluang lebih besar untuk mencegah bencana dari luar angkasa.

“Baca Juga: Jadwal Liga Champions 18–19 Maret 2026 Live di MOJI“

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *