VOXSULUT – Para ilmuwan mulai mengamati tanda-tanda kemunculan El Niño pada 2026. Fenomena iklim ini muncul ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur meningkat di atas normal.
Kenaikan suhu tersebut dapat mengubah pola cuaca di banyak wilayah dunia. Selain itu, perubahan ini juga memengaruhi curah hujan, suhu udara, dan musim di berbagai negara.
Saat ini, Samudra Pasifik baru keluar dari fase La Niña yang identik dengan suhu laut lebih dingin. Namun, suhu laut kini meningkat cukup cepat dan mengarah pada pembentukan El Niño.
Para peneliti terus memantau perkembangan kondisi tersebut karena dampaknya dapat menjangkau berbagai benua.
“Baca Juga: Long March 12B Meluncur, Cina Tantang Falcon 9“
-
Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru ulasan, rekomendasi, dan seputar dunia hiburan, Games, teknologi dan kesehatan baik lokal, nasional, maupun internasional, kamu bisa join di Channel WA VoxSulut.com dengan KLIK DI SINI.
-
Sosial Media Tiktok Berita Kostum Baru Spider-Man
-
Berita Kostum Baru Spider-Man di Instragram Voxsulut.com
Super El Niño Bisa Memicu Dampak Lebih Besar
El Niño memiliki beberapa tingkat kekuatan. Para ahli menyebut El Niño sebagai super El Niño ketika suhu laut meningkat hingga 2 derajat Celsius atau lebih di atas rata-rata.
Fenomena tersebut sangat jarang terjadi. Sejarah modern hanya mencatat beberapa super El Niño, yaitu pada 1982, 1997, dan 2015.
Ketika super El Niño muncul, banyak wilayah menghadapi cuaca ekstrem. Sebagian daerah mengalami kekeringan panjang, sementara daerah lain menghadapi hujan berlebihan dan banjir.
Selain itu, suhu udara global biasanya ikut meningkat dan memecahkan berbagai rekor panas.
Karena itu, para ilmuwan memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan suhu laut saat ini.
El Niño Pernah Memicu Bencana Kemanusiaan Besar
Sejarah mencatat beberapa peristiwa El Niño dengan dampak sangat serius. Salah satu yang paling terkenal terjadi pada periode 1876 hingga 1878.
Fenomena tersebut memicu gagal panen di berbagai negara. Akibatnya, jutaan orang kesulitan memperoleh bahan pangan.
Sejumlah catatan sejarah menyebut kelaparan besar melanda India, Cina, Brasil, dan Afrika Selatan. Peristiwa itu menyebabkan sekitar 50 juta orang meninggal dunia.
Karena dampaknya yang sangat luas, banyak peneliti menggunakan peristiwa tersebut sebagai acuan untuk memahami risiko El Niño ekstrem.
Peluang Kemunculan El Niño pada 2026 Terus Meningkat
Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat atau NOAA melihat peluang kemunculan El Niño yang cukup besar.
Lembaga tersebut memperkirakan peluang perkembangan El Niño pada Juli 2026 mencapai 82 persen.
Sementara itu, sejumlah penelitian terbaru juga menyoroti perubahan kondisi laut di Samudra Pasifik sepanjang awal tahun ini.
Para peneliti terus mengumpulkan data untuk mengetahui seberapa kuat fenomena tersebut akan berkembang dalam beberapa bulan mendatang.
BMKG Pantau Kondisi El Niño di Indonesia
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyampaikan bahwa indeks El Niño pada awal Juni 2026 berada di kisaran 1 derajat.
Nilai tersebut menunjukkan El Niño masih berada pada kategori lemah hingga moderat. Pada tingkat ini, dampaknya biasanya belum terlalu besar.
Meski demikian, BMKG tetap memantau perkembangan kondisi laut dan atmosfer secara berkala.
Jika suhu laut terus meningkat, dampaknya dapat menjadi lebih luas dan lebih sulit diprediksi.
Asia Tenggara Perlu Bersiap Menghadapi Risiko Cuaca Ekstrem
Para peneliti mengingatkan negara-negara Asia Tenggara untuk meningkatkan kewaspadaan sejak dini.
Jika El Niño terus menguat, kawasan ini dapat menghadapi berbagai tantangan cuaca. Kekeringan berkepanjangan menjadi salah satu risiko yang paling sering muncul.
Selain itu, beberapa wilayah juga berpotensi mengalami banjir bandang lokal akibat perubahan pola hujan.
Sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang paling rentan terdampak. Kekurangan air dapat mengurangi hasil panen dan mengganggu pasokan pangan.
Di sisi lain, musim kering yang lebih panjang juga dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan kabut asap.
Karena itu, pemerintah dan masyarakat perlu mempersiapkan langkah antisipasi sejak sekarang. Langkah tersebut dapat membantu mengurangi dampak yang mungkin muncul jika El Niño berkembang menjadi lebih kuat dalam beberapa bulan mendatang.
“Baca Juga: Penembakan Dekat Markas Inggris Bayangi Piala Dunia 2026“





