VOXSULUT – Sejarah dan Pemanfaatan Uranium: Ilmuwan dan pelaku industri energi terus menaruh perhatian pada uranium.
Unsur ini mampu menghasilkan energi besar dari jumlah bahan yang sangat kecil.
Menurut Departemen Energi Amerika Serikat, uranium ditemukan secara alami dalam tanah, batu, dan air.
Namun, konsentrasinya sangat rendah sehingga perlu proses penambangan untuk mengumpulkannya.
“Baca Juga: Berapa Langkah Ideal per Hari agar Tubuh Tetap Sehat?“
Proses Penambangan Uranium di Dunia
Penambang biasanya memilih dua metode utama untuk mengambil uranium, yaitu tambang terbuka dan penggalian bawah tanah.
Setelah itu, mereka menghancurkan bijih uranium lalu mengolahnya di pabrik khusus untuk memisahkan kandungan bernilai.
Tujuannya adalah memisahkan kandungan uranium dari material lain yang tidak berguna.
Selain itu, ada metode pencucian in-situ yang melibatkan pelarutan uranium langsung dari lapisan tanah.
Mereka memompa larutan tersebut ke permukaan untuk dikumpulkan dan diproses lebih lanjut.
Hasil akhirnya berupa konsentrat uranium oksida (UO), yang digunakan dalam industri nuklir.
Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru ulasan, rekomendasi, dan seputar dunia hiburan, teknologi dan kesehatan baik lokal, nasional, maupun internasional, kamu bisa join di Channel WA VoxSulut.com dengan KLIK DI SINI.
Awal Penemuan Uranium di Abad ke-18
Ahli kimia Jerman, Martin Heinrich Klaproth, menemukan uranium pertama kali pada tahun 1789.
Ia meneliti sampel dari tambang perak di Joachimsthal yang sekarang berada di wilayah Republik Ceko.
Klaproth berhasil mengisolasi oksida uranium dan menamainya “uran” dari nama planet Uranus.
Namun, uranium murni baru bisa diisolasi pada 1841 oleh Eugène-Melchior Péligot dari Prancis.
Péligot mereduksi uranium tetraklorida menggunakan kalium untuk mendapatkan logam murninya.
Masuk ke Sistem Periodik Unsur dan Era Radioaktivitas
Kimiawan Rusia, Dmitry Mendeleyev, memasukkan uranium ke sistem periodik unsur pada 1869.
Saat itu, uranium tercatat sebagai unsur terberat yang diketahui manusia.
Pada 1896, fisikawan Prancis Henri Becquerel menemukan sifat radioaktif uranium.
Kemudian pada 1898, Marie dan Pierre Curie memperkenalkan istilah “radioaktivitas”.
Sejak itu, penelitian tentang uranium dan unsur radioaktif lainnya terus berkembang pesat.
Mengenal Isotop Uranium dan Fungsinya
Uranium memiliki tiga isotop utama, yaitu U-238, U-235, dan U-234.
U-238 merupakan yang paling melimpah, dengan waktu paruh mencapai 4,5 miliar tahun.
U-235 hanya menyumbang 0,72 persen tetapi memiliki kemampuan fisi nuklir.
Sedangkan U-234 hadir dalam jumlah kecil dengan waktu paruh sekitar 247 ribu tahun.
Ilmuwan menggunakan peluruhan uranium untuk memperkirakan usia batuan dan planet.
U-238 menjadi unsur induk dalam deret peluruhan uranium, sedangkan U-235 memicu deret aktinium.
Fisi Nuklir dan Perkembangan Teknologi Uranium
Minat terhadap uranium meningkat tajam pada akhir 1930-an.
Otto Hahn dan Fritz Strassmann dari Jerman menemukan bahwa neutron lambat dapat memecah inti uranium.
Enrico Fermi memperkirakan bahwa fisi ini menghasilkan neutron baru dan bisa memicu reaksi berantai.
Pada 1939, para ilmuwan seperti Leo Szilard dan Joliot-Curie membuktikan bahwa uranium melepaskan dua hingga tiga neutron saat fisi.
Penemuan ini membuka jalan bagi reaksi berantai pertama yang terjadi pada 2 Desember 1942.
Uranium dalam Sejarah Militer dan Energi
Ilmuwan menggunakan uranium untuk uji coba bom atom pertama pada 16 Juli 1945.
Tiga minggu kemudian, mereka menjatuhkan bom atom di Hiroshima pada 6 Agustus 1945.
Tahun 1955, kapal selam bertenaga nuklir pertama berhasil diluncurkan.
Lalu, pada 1957, dunia menyaksikan operasional pembangkit listrik tenaga nuklir pertama secara penuh.
Sejarah dan Pemanfaatan Uranium: Uranium dan Masa Depan Energi
Uranium terus memainkan peran penting dalam dunia energi dan teknologi nuklir.
Dengan pengelolaan yang tepat, uranium bisa menjadi sumber daya yang sangat bermanfaat bagi masa depan energi bersih.






