VOXSULUT – NASA Siapkan Reaktor Nuklir: Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) berencana membangun reaktor nuklir di bulan.
Rencana ini menjadi bagian dari langkah besar untuk mendukung misi luar angkasa jangka panjang.
Selama beberapa tahun terakhir, NASA mengembangkan sistem reaksi fisi berdaya 40 kilowatt.
Awalnya, NASA berencana membawa reaktor tersebut ke bulan pada awal 2030-an.
Namun, Pelaksana Tugas Administrator NASA, Sean Duffy, mengumumkan target lebih ambisius.
Pekan ini, ia akan mengeluarkan arahan resmi untuk percepatan proyek tersebut.
“Baca Juga: Anthropic Blokir Akses Claude oleh OpenAI, Ini Alasannya“
Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru ulasan, rekomendasi, dan seputar dunia hiburan, Games, teknologi dan kesehatan baik lokal, nasional, maupun internasional, kamu bisa join di Channel WA VoxSulut.com dengan KLIK DI SINI.
Sosial Media Tiktok Berita Kostum Baru Spider-Man
Berita Kostum Baru Spider-Man di Instragram Voxsulut.com
Target Baru: Reaktor Nuklir 100 Kilowatt
Arahan baru mendorong NASA untuk meminta proposal dari industri.
Tujuannya, NASA ingin membangun reaktor nuklir berdaya 100 kilowatt dan meluncurkannya pada 2030.
Selain itu, langkah ini mendukung rencana kembalinya astronaut ke permukaan bulan.
Reaktor tersebut akan memasok energi bagi pangkalan luar angkasa yang sedang direncanakan.
Sementara itu, media Politico menyebut keputusan ini sebagai bagian dari strategi persaingan luar angkasa global.
Dukungan Program Artemis
Proyek reaktor nuklir ini mendukung Program Artemis milik NASA.
Program ini menargetkan kembalinya astronaut ke bulan serta pembangunan satu atau lebih pangkalan permanen sekitar 2030.
Selain itu, NASA menganggap tenaga nuklir lebih ideal dibanding tenaga surya.
Hal ini terjadi karena rotasi bulan yang lambat membuat malam di bulan berlangsung sekitar dua minggu waktu bumi.
Oleh karena itu, energi nuklir memungkinkan pangkalan bulan beroperasi terus-menerus tanpa bergantung pada sinar matahari.
Persaingan dengan Cina dan Rusia
Cina berencana membangun pangkalan bulan bersama Rusia dan beberapa negara lain.
Arahan Duffy bertujuan untuk mengamankan posisi Amerika Serikat di garis terdepan.
Politico menyebut, negara pertama yang memiliki reaktor di bulan bisa menetapkan zona larangan masuk.
Kondisi ini berpotensi menghambat akses negara lain, termasuk Amerika Serikat.
Langkah percepatan pembangunan reaktor menjadi strategi penting untuk memenangkan persaingan.
Profil Sean Duffy dan Kepemimpinan Baru
Presiden Donald Trump menunjuk Sean Duffy sebagai Pelaksana Tugas Administrator NASA pada 9 Juli lalu.
Lima minggu sebelumnya, Trump membatalkan pencalonan Jared Isaacman.
Isaacman merupakan pengusaha, miliarder, dan astronaut swasta yang menjalin hubungan dekat dengan Elon Musk.
Kini, Duffy memimpin NASA dan memprioritaskan percepatan proyek strategis, termasuk pembangunan reaktor nuklir di bulan.
“Baca Juga: El Clasico Legends Digelar di GBK Jakarta, 27 September 2025“









