Indonesia Percepat Pengembangan Drone Elang Hitam

Teknologi285 Dilihat

VOXSULUT Perang modern berubah cepat karena penggunaan drone dan kecerdasan buatan. Negara-negara kini mengandalkan teknologi untuk meningkatkan daya tempur. Indeks Perdamaian Global 2025 menyoroti dampak perubahan ini. Laporan itu menegaskan bahwa teknologi membuat konflik semakin asimetris. Selain itu, teknologi juga membuat konflik semakin sulit diselesaikan.

Awalnya militer memakai drone untuk mendukung artileri. Pada 1960-an, pasukan Persemakmuran Inggris memanfaatkan drone untuk mengakuisisi target. Mereka memperluas jangkauan pengamat artileri melalui pesawat tanpa awak. Sejak itu, militer fokus pada pengintaian dan penentuan sasaran.

Namun, sejumlah catatan menyebut sejarah drone lebih lama. Imperial War Museum mencatat Inggris dan Amerika Serikat bereksperimen sejak Perang Dunia I. Keduanya menguji pesawat tanpa awak dengan kendali radio. Istilah drone muncul dari pesawat De Havilland DH82B Queen Bee pada 1935.

“Baca Juga: FAA Restui Falcon 9, Crew-12 Siap Meluncur“

Drone Ubah Strategi Perang Global

Dalam dua dekade terakhir, Amerika Serikat memanfaatkan drone untuk operasi kontraterorisme. Mereka mengoperasikan drone di Irak, Suriah, Afghanistan, Pakistan, dan Yaman. Negara lain juga mengikuti langkah tersebut. Konflik Armenia dan Azerbaijan pada 2020 menunjukkan efektivitas taktik drone.

Pada perang di Nagorno-Karabakh, Azerbaijan memodifikasi pesawat pertanian menjadi drone umpan. Armenia menghancurkan umpan tersebut melalui sistem pertahanan udara. Namun, Azerbaijan segera menyerang balik menggunakan drone tempur dan artileri. Strategi itu melumpuhkan pertahanan lawan secara cepat.

Kemudian, perang Rusia dan Ukraina memperkuat tren ini. Rusia menginvasi Ukraina pada 2022 dengan kekuatan besar. Namun, Ukraina mengembangkan drone secara cepat dan masif. Ukraina memakai drone kecil untuk mengumpulkan intelijen secara real-time. Selain itu, pasukan Ukraina juga melibatkan drone langsung di medan tempur.

Penggunaan drone skala besar menciptakan fleksibilitas taktis baru. Negara dengan sumber daya terbatas kini mampu menantang kekuatan besar. Drone memberi keunggulan biaya dan kecepatan. Oleh karena itu, banyak negara meningkatkan investasi pada teknologi ini.

Indonesia Dorong Drone Elang Hitam

Indonesia juga menaruh perhatian besar pada pengembangan drone. Artikel Avit Hidayat di Tempo menjelaskan rencana percepatan proyek Elang Hitam. PT Dirgantara Indonesia memimpin pengembangan drone ini bersama berbagai lembaga nasional.

Konsorsium melibatkan Kementerian Pertahanan, TNI Angkatan Udara, dan lembaga riset nasional. Selain itu, Institut Teknologi Bandung dan PT LEN Industri ikut berkontribusi. Mereka merancang Elang Hitam sebagai drone jarak menengah dengan daya jelajah panjang.

Proyek ini sempat masuk Prioritas Riset Nasional 2020-2024. Namun, proyek tersebut mengalami hambatan dalam beberapa tahun terakhir. Kini, PT Dirgantara Indonesia kembali mempercepat penyelesaian proyek. Perusahaan menargetkan penyelesaian pada akhir tahun ini.

Presiden Prabowo Subianto mendorong pengembangan untuk kebutuhan militer. Meski demikian, tim pengembang juga menyiapkan potensi penggunaan sipil. Drone ini dapat mendukung pengawasan wilayah dan penanggulangan bencana.

Dengan demikian, Indonesia berupaya mengejar ketertinggalan teknologi pertahanan. Pengalaman konflik global menunjukkan pentingnya kesiapan drone. Oleh sebab itu, proyek Elang Hitam menjadi langkah strategis bagi kemandirian pertahanan nasional.

“Baca Juga: Barcelona Incar Bek PSG Usai Transfer Dro Fernandez“

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *