VOXSULUT – Tim riset Teknik Perkapalan Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan kapal pembersih sampah tanpa awak. Inovasi ini hadir untuk membantu mengatasi pencemaran sampah di perairan Indonesia.
Ketua tim riset, Hasanudin, menjelaskan bahwa proyek tersebut berawal dari keprihatinan terhadap kondisi laut Indonesia. Sampah yang menumpuk di laut dapat mengancam ekosistem dan keselamatan biota laut.
Karena itu, Hasan bersama timnya merancang kapal khusus yang mampu mengumpulkan sampah secara lebih efektif.
“Baca Juga: BRIN Kembangkan Teknologi Hybrid untuk Pantura Jawa“
-
Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru ulasan, rekomendasi, dan seputar dunia hiburan, Games, teknologi dan kesehatan baik lokal, nasional, maupun internasional, kamu bisa join di Channel WA VoxSulut.com dengan KLIK DI SINI.
-
Sosial Media Tiktok Berita Kostum Baru Spider-Man
-
Berita Kostum Baru Spider-Man di Instragram Voxsulut.com
Kapal Katamaran Dirancang dalam Waktu Singkat
Tim ITS memilih desain katamaran untuk kapal pembersih ini. Desain tersebut menggunakan dua lambung sejajar yang terhubung pada bagian tengah.
Di antara kedua lambung tersebut, tim memasang sistem pengumpul sampah. Sistem itu berfungsi mengarahkan sampah ke dalam ruang penampungan.
Menariknya, tim berhasil menyelesaikan rancangan awal kapal hanya dalam waktu satu bulan. Selain cepat, desain kapal juga mengutamakan kemudahan penggunaan.
Cara Kerja Kapal Pembersih Sampah
Kapal ini bekerja dengan mendekati area yang dipenuhi sampah. Setelah itu, alat pengumpul akan mengarahkan sampah ke bagian penampungan.
Selanjutnya, kapal membawa sampah yang terkumpul ke daratan. Petugas kemudian memilah sampah sesuai jenisnya untuk proses pengelolaan lebih lanjut.
Dengan sistem tersebut, proses pembersihan perairan dapat berjalan lebih efisien.
Dua Kapal Beroperasi di Bali dan Kalimantan
Saat ini, tim ITS telah membangun tiga kapal pembersih sampah.
Dua kapal berukuran besar memiliki panjang delapan meter dan lebar 2,6 meter. Masing-masing kapal mampu menampung hingga 500 kilogram sampah.
Pertamina kini menggunakan kedua kapal tersebut di perairan Bali dan Kalimantan Selatan. Kehadiran kapal ini membantu menjaga kebersihan wilayah perairan yang padat aktivitas.
Sementara itu, kapal ketiga memiliki ukuran lebih kecil. Kapal tersebut berukuran empat meter kali 1,5 meter dan mampu menampung 300 kilogram sampah.
Tim ITS mengoperasikan kapal kecil tersebut di danau kawasan kampus Surabaya.
Mengutamakan Teknologi Sederhana dan Mudah Dirawat
Hasan menjelaskan bahwa tim sengaja mengembangkan teknologi yang sederhana. Dengan pendekatan tersebut, masyarakat lokal dapat mengoperasikan dan merawat kapal dengan mudah.
Selain itu, biaya perawatan juga menjadi lebih rendah. Tim berharap kapal ini tidak mengalami kendala operasional akibat kebutuhan teknisi khusus.
Karena itu, desain sederhana menjadi salah satu keunggulan utama kapal ini.
Dilengkapi Panel Surya dan Kamera Pemantau
Kapal pembersih sampah ini juga membawa sejumlah fitur pendukung. Operator dapat mengendalikan kapal melalui remote control hingga jarak satu kilometer.
Selain itu, kapal memiliki alat pencacah sampah untuk membantu proses pengelolaan limbah. Tim juga memasang kamera CCTV untuk memantau kondisi di sekitar kapal.
Menariknya, kapal memperoleh pasokan energi dari panel surya. Teknologi tersebut membuat operasional kapal lebih ramah lingkungan.
ITS Siapkan Teknologi AI untuk Masa Depan
Ke depan, tim riset ITS berencana menambahkan teknologi kecerdasan buatan. Sistem tersebut akan membantu kapal mendeteksi area dengan konsentrasi sampah tinggi.
Selain itu, teknologi Internet of Things akan mendukung pemantauan kondisi perairan secara otomatis.
Melalui inovasi ini, ITS berharap semakin banyak pihak ikut menjaga kebersihan laut Indonesia. Kolaborasi antara kampus, industri, dan masyarakat dinilai penting untuk menjaga lingkungan maritim yang berkelanjutan.
“Baca Juga: Australia vs Turki: Jadwal, Siaran Langsung, dan Prediksi“












