VOXSULUT – Perusahaan asal Norwegia bernama Flocean menyiapkan terobosan besar di sektor air bersih.
Pada tahun ini, Flocean berencana mengoperasikan fasilitas desalinasi bawah laut skala komersial pertama di dunia.
Teknologi ini mampu memproduksi air bersih langsung dari laut.
Selain itu, sistem ini menawarkan biaya lebih rendah dan konsumsi energi lebih hemat.
Media sains New Scientist melaporkan klaim tersebut pada 30 Desember 2025.
Flocean menyebut sistemnya memangkas biaya dan energi secara signifikan.
“Baca Juga: BRIN Inovasikan Tekstil Antibakteri dari Minyak Jeruk Nipis“
-
Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru ulasan, rekomendasi, dan seputar dunia hiburan, Games, teknologi dan kesehatan baik lokal, nasional, maupun internasional, kamu bisa join di Channel WA VoxSulut.com dengan KLIK DI SINI.
-
Sosial Media Tiktok Berita Kostum Baru Spider-Man
-
Berita Kostum Baru Spider-Man di Instragram Voxsulut.com
Cara Kerja Sistem Desalinasi Bawah Laut
Flocean mengembangkan sistem desalinasi yang ditempatkan di dasar laut.
Perusahaan ini menggunakan pod penyaring air sebagai komponen utama.
Sistem memisahkan garam dari air laut pada kedalaman tertentu.
Setelah itu, pompa mengalirkan air tawar langsung ke daratan.
Pendekatan ini memanfaatkan tekanan alami laut.
Tekanan hidrostatis membantu mendorong air melalui membran penyaring.
Dengan cara tersebut, sistem tidak membutuhkan tekanan buatan yang besar.
Akibatnya, konsumsi energi bisa turun secara signifikan.
Permintaan Air Bersih Terus Meningkat
Saat ini, kebutuhan air bersih global terus meningkat.
Pertumbuhan penduduk menjadi salah satu faktor utama.
Selain itu, perubahan iklim memperparah krisis air di banyak wilayah.
Industri juga ikut mendorong lonjakan permintaan air bersih.
Pusat data dan sektor manufaktur membutuhkan pasokan air stabil.
Namun, ketersediaan air tawar semakin terbatas.
Kekeringan, deforestasi, dan irigasi berlebihan mempercepat krisis ini.
Oleh karena itu, banyak negara mulai mencari solusi baru.
Peran Desalinasi dalam Pasokan Air Dunia
Saat ini, desalinasi berbasis darat menyumbang sekitar satu persen pasokan air tawar dunia.
Lebih dari 300 juta orang bergantung pada teknologi ini setiap hari.
Sebagian besar fasilitas desalinasi besar berada di Timur Tengah.
Wilayah tersebut menghadapi kelangkaan air yang tinggi.
Selain itu, biaya energi di kawasan tersebut relatif murah.
Kondisi ini membuat desalinasi konvensional lebih mudah diterapkan.
Tantangan Teknologi Reverse Osmosis
Teknologi desalinasi paling umum saat ini adalah reverse osmosis.
Metode ini memaksa air laut melewati membran berpori sangat kecil.
Proses tersebut memisahkan molekul air dari garam dan kotoran.
Namun, sistem ini membutuhkan tekanan tinggi.
Akibatnya, konsumsi energi menjadi sangat besar.
Biaya operasional juga meningkat seiring waktu.
Desalinasi Bawah Laut Jadi Solusi Baru
Flocean mencoba menjawab tantangan tersebut dengan pendekatan berbeda.
Perusahaan ini menempatkan sistem reverse osmosis di bawah laut.
Tekanan alami laut menggantikan kebutuhan tekanan buatan.
Dengan demikian, energi tambahan bisa ditekan.
Flocean menilai teknologi ini cocok menghadapi krisis air global.
Pendekatan ini juga membuka peluang desalinasi yang lebih berkelanjutan.
Jika berhasil, sistem ini dapat mengubah cara dunia memproduksi air bersih.






