Perahu Listrik Tenaga Surya Jadi Solusi Teknologi Nelayan

Teknologi263 Dilihat

VOXSULUT – Solusi perahu listrik bertenaga surya resmi hadir di Pulau Tunda.
Inovasi ini bertujuan menekan biaya bahan bakar nelayan.

Selain itu, teknologi ini mengurangi emisi dan mendukung lingkungan pesisir.
Program ini juga memperkuat mata pencaharian nelayan tradisional.

“Baca Juga: Robot Rumah LG CLOiD Berbasis AI Tampil Perdana di CES 2026“

Kolaborasi BRIN, UNDP, dan KKP di Banten

Peluncuran kapal berlangsung pada Rabu, 14 Januari 2026.
Acara berlangsung dalam Expo Inovasi Ekosistem Kapal Listrik Ramah Lingkungan.

Kegiatan ini melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional.
Program ini juga menggandeng United Nations Development Programme.

Selain itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan ikut mendukung penuh kegiatan ini.
Pemerintah Jepang turut memberikan pendanaan proyek SeaBLUE.

Target Enam Kapal Listrik untuk Nelayan Kecil

BRIN menargetkan enam unit motor listrik untuk kapal nelayan.
BRIN mengembangkan motor tempel bersama PT Giga Inovasi Nasional.

Pelaksana Tugas Deputi BRIN, Anugerah Widiyanto, menyampaikan target tersebut.
Ia menekankan pentingnya riset terapan bagi masyarakat pesisir.

Teknologi ini dirancang sesuai kebutuhan nelayan tradisional.
Pengembang menyesuaikan desain dengan kondisi laut setempat.

UNDP Dorong Solusi Ekonomi dan Lingkungan

UNDP menilai kapal listrik tenaga surya sebagai solusi strategis.
Inovasi ini menjawab tantangan ekonomi nelayan kecil.

Kepala Pembiayaan UNDP Indonesia, Nila Murti, menyampaikan pandangan tersebut.
Ia menilai teknologi ini menurunkan biaya operasional nelayan.

Selain itu, kapal listrik mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Teknologi ini juga mendukung transisi energi bersih.

Kondisi Nelayan Pulau Tunda Masih Terbatas

Pulau Tunda belum menikmati listrik selama 24 jam.
Wilayah ini memiliki luas sekitar 260 hektare.

Jumlah penduduk Pulau Tunda mencapai sekitar 1.700 jiwa.
Sebanyak 85 persen kepala keluarga bekerja sebagai nelayan.

Kepala Desa Wargasara, Hasyim, menjelaskan kondisi tersebut.
Ia menyebut nelayan sering kesulitan memperoleh solar.

Hasyim berharap kapal listrik meningkatkan kesejahteraan warga.
Ia menilai teknologi ini sangat membantu aktivitas melaut.

Distribusi Teknologi ke Wilayah 3T

BRIN mengembangkan teknologi untuk wilayah tertinggal dan terluar.
Kepala Pusat Riset Transportasi BRIN, Aam Muharam, memimpin program ini.

Proyek SeaBLUE menargetkan distribusi 162 cooler box tenaga surya.
Program ini juga menyalurkan enam mesin kapal listrik.

Sebanyak 34 desa di Morotai dan Kepulauan Tanimbar menjadi sasaran.
Wilayah tersebut memiliki tantangan logistik dan energi.

Nelayan Kecil Hadapi Tantangan Besar

Indonesia memiliki lebih dari dua juta nelayan kecil.
Mereka menyumbang sekitar 60 persen produksi perikanan tangkap nasional.

Namun, nelayan kecil masih rentan terhadap perubahan iklim.
Fluktuasi harga bahan bakar juga sering menekan pendapatan.

Proyek SeaBLUE menawarkan solusi nyata bagi nelayan.
Program ini memadukan pelatihan dan dukungan teknis.

BRIN, UNDP, dan KKP memastikan teknologi aman dan mudah digunakan.
Kolaborasi ini mendorong perikanan berkelanjutan di Indonesia.

“Baca Juga: Madrid Ganti Pelatih, Nasib Endrick di Lyon Terjawab“

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *