VOXSULUT – Tim peneliti berhasil mencatat pencapaian penting dalam ekspedisi laut 2025. Mereka meneliti megafauna di Bentang Laut Sunda Kecil. Mereka memasang tag satelit pada paus biru kerdil menggunakan drone.
Tim melakukan pemasangan tag pada 13 Oktober 2025. Mereka menerima sinyal terakhir pada 22 Oktober 2025. Data awal menunjukkan paus menempuh lebih dari 2.000 kilometer dalam sembilan hari.
Hasil ini memberi gambaran jelas tentang pola migrasi paus. Selain itu, data ini memperkuat pentingnya perlindungan lintas wilayah. Tim kini memiliki dasar kuat untuk riset lanjutan.
“Baca Juga: NASA Siapkan Pangkalan Permanen di Bulan“
-
Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru ulasan, rekomendasi, dan seputar dunia hiburan, Games, teknologi dan kesehatan baik lokal, nasional, maupun internasional, kamu bisa join di Channel WA VoxSulut.com dengan KLIK DI SINI.
-
Sosial Media Tiktok Berita Kostum Baru Spider-Man
-
Berita Kostum Baru Spider-Man di Instragram Voxsulut.com
Drone Bantu Pemasangan Tag Lebih Aman
Iqbal Herwata memimpin ekspedisi ini. Ia menjelaskan bahwa tim hanya berhasil memasang satu dari empat tag. Meski begitu, metode drone tetap terbukti efektif.
Ia menilai metode ini lebih aman dibanding cara lama. Drone membantu tim mengurangi risiko terhadap paus. Selain itu, pendekatan ini tidak mengganggu perilaku alami hewan.
Tim menggunakan tag satelit jenis LIMPET. Alat ini dirancang untuk dampak minimal pada tubuh paus. Dengan cara ini, peneliti tetap menjaga kesejahteraan satwa.
Kawasan Sunda Kecil Jadi Jalur Migrasi Penting
Iqbal menjelaskan bahwa Bentang Laut Sunda Kecil memiliki peran strategis. Kawasan ini menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik. Selain itu, wilayah ini berada dalam Segitiga Terumbu Karang.
Arus laut dan bentuk dasar laut menciptakan wilayah yang subur. Karena itu, banyak spesies besar melintasi kawasan ini. Paus, lumba-lumba, dan hiu paus sering bermigrasi di sini.
Namun, data migrasi masih terbatas. Banyak jalur dan area penting belum terpetakan dengan baik. Oleh karena itu, ekspedisi ini menjadi langkah penting.
Kolaborasi Peneliti Perkuat Riset Kelautan
Ekspedisi ini melibatkan banyak lembaga dan peneliti. Mereka berasal dari Indonesia dan Timor Leste. Selain itu, beberapa universitas ikut berpartisipasi.
Tim bekerja sama untuk berbagi pengetahuan. Mereka juga meningkatkan kemampuan riset kelautan. Kolaborasi ini memperkuat hasil penelitian secara keseluruhan.
Edy Setyawan menjelaskan tantangan pemasangan tag. Tim harus bekerja cepat dan tepat. Paus hanya muncul beberapa detik di permukaan.
Ia menambahkan bahwa angin dan gelombang memengaruhi proses. Selain itu, pergerakan paus membuat proses semakin sulit. Namun, tim tetap berhasil menjalankan misi.
Peneliti Temukan Variasi Perilaku Paus
Rusydi mencatat variasi perilaku paus di beberapa lokasi. Di tenggara Pulau Wetar, paus sering beristirahat di permukaan. Sementara itu, paus di Laut Sawu cenderung terus bergerak.
Namun, paus terkadang berhenti di area tertentu. Area tersebut biasanya berupa gunung bawah laut. Temuan ini membantu peneliti memahami penggunaan habitat.
Selain paus, tim juga mencatat 10 hingga 12 spesies lain. Mereka mengamati perilaku kawin lumba-lumba dan paus tertentu. Data ini memperkaya informasi tentang siklus hidup satwa.
Data Migrasi Dukung Kebijakan Perlindungan
Rusydi menjelaskan bahwa data migrasi memiliki dampak besar. Tim dapat membandingkan jalur paus dengan aktivitas manusia. Misalnya, jalur pelayaran dan penangkapan ikan.
Dengan cara ini, tim dapat mengidentifikasi risiko. Mereka juga dapat menentukan area yang perlu perlindungan khusus. Wilayah dengan banyak kemunculan paus memerlukan pengelolaan ketat.
Selain itu, data ini mendukung wisata pengamatan paus. Pengelola dapat menjaga keseimbangan antara wisata dan konservasi. Dengan demikian, aktivitas manusia tidak mengganggu satwa.
Kerja Sama Internasional Perkuat Konservasi
Jafet Potenzo menilai kolaborasi ini sangat penting. Ia melihat kerja sama ini mempererat hubungan antarnegara. Selain itu, penelitian ini berlangsung di wilayah perbatasan laut.
Ia juga menilai kegiatan ini memberi manfaat bagi masyarakat. Warga Timor Leste dapat belajar mengelola sumber daya laut. Dengan begitu, mereka dapat menjaga kelestarian lingkungan.
Melalui ekspedisi ini, para peneliti membuka wawasan baru. Mereka juga memperkuat upaya konservasi laut di kawasan timur Indonesia.
“Baca Juga: Beckham Putra Cetak Brace, Fokus ke Laga Berikutnya“












