VOXSULUT – Pembangunan infrastruktur pelindung pesisir di Pantai Utara Jawa terus menjadi perhatian pemerintah. Karena itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengusung konsep hybrid eco-engineering untuk mendukung perlindungan kawasan pesisir secara berkelanjutan.
Langkah ini juga sejalan dengan rencana pembangunan Giant Sea Wall (GSW) Teluk Jakarta yang diperkirakan mulai berjalan pada Oktober 2026.
“Baca Juga: Super El Niño 2026 Mengancam, Ilmuwan Tingkatkan Waspada“
-
Agar kamu tidak ketinggalan informasi terbaru ulasan, rekomendasi, dan seputar dunia hiburan, Games, teknologi dan kesehatan baik lokal, nasional, maupun internasional, kamu bisa join di Channel WA VoxSulut.com dengan KLIK DI SINI.
-
Sosial Media Tiktok Berita Kostum Baru Spider-Man
-
Berita Kostum Baru Spider-Man di Instragram Voxsulut.com
BRIN Siapkan Demplot Breakwater di Bekasi
BRIN bersama sejumlah lembaga memperkuat koordinasi untuk menyiapkan proyek percontohan di kawasan pesisir. Salah satu fokus utama berada di Pantai Sederhana, Bekasi.
Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika BRIN, Dinar Catur Istiyanto, menjelaskan bahwa timnya mengusulkan pembangunan pemecah gelombang sepanjang 100 meter.
Tim BRIN akan menggabungkan struktur pelindung pantai dengan penanaman mangrove. Melalui pendekatan ini, BRIN ingin menciptakan perlindungan pesisir yang lebih efektif dan ramah lingkungan.
Menurut Dinar, konsep tersebut menggabungkan infrastruktur fisik dengan kekuatan ekosistem alami. Karena itu, perlindungan pantai tidak hanya mengandalkan beton atau struktur keras.
Pengumpulan Data Teknis Terus Berjalan
Mangrove Jadi Bagian Penting Perlindungan Pesisir
Selain membangun infrastruktur, BRIN juga memberi perhatian besar terhadap pelestarian mangrove. Ekosistem ini memiliki peran penting dalam menjaga garis pantai dari abrasi.
Perekayasa Ahli Madya BRIN, Khusnul Setia Wardani, menjelaskan bahwa kerusakan mangrove tidak selalu terjadi akibat gelombang laut.
Hasil penelitian BRIN menunjukkan pembukaan lahan tambak menjadi salah satu penyebab utama berkurangnya kawasan mangrove di beberapa wilayah pesisir.
Karena itu, BRIN mendorong kajian menyeluruh sebelum pembangunan besar dilakukan. Kajian tersebut mencakup pemilihan jenis mangrove yang tepat dan penentuan jarak ideal dari tanggul.
Studi Indramayu Jadi Contoh Keberhasilan
BRIN juga menyoroti keberhasilan pengelolaan pesisir di Losarang, Indramayu. Di wilayah tersebut, pembangunan tanggul membantu memperlambat arus laut.
Kondisi tersebut kemudian mendorong terbentuknya endapan tanah baru. Setelah itu, mangrove tumbuh secara alami dan memperkuat perlindungan kawasan pesisir.
Menurut Khusnul, pengalaman tersebut dapat menjadi referensi untuk pengembangan kawasan pesisir lainnya di Pantura Jawa.
BOPPJ Siap Integrasikan Hasil Riset BRIN
Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) menyambut positif berbagai rekomendasi dari BRIN. Lembaga tersebut berencana memasukkan hasil riset ke dalam perencanaan wilayah Teluk Jakarta.
Deputi I BOPPJ, Sawarendro, mengatakan pihaknya akan segera memetakan kawasan mangrove dan tambak. Selanjutnya, data tersebut akan menjadi bagian dari peta tata ruang Teluk Jakarta.
Selain itu, BOPPJ juga meminta BRIN memberikan kajian teknis terkait masalah penurunan tanah di wilayah Kendal, Semarang, dan Rembang.
Menurut Sawarendro, penggunaan struktur BRINlock di depan tanggul menawarkan solusi yang efisien. Struktur tersebut mampu meredam gelombang tanpa membutuhkan konstruksi yang terlalu besar.
Melalui kolaborasi ini, BRIN dan BOPPJ berharap perlindungan pesisir Pantura dapat berjalan lebih efektif sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan dalam jangka panjang.
“Baca Juga: Jadwal Lengkap Piala Dunia 2026 Live di TVRI Hari Ini“












