Startup Global Uji Teknologi Pemantauan Laut Indonesia

Teknologi24 Dilihat

VOXSULUT Dua startup internasional mulai mengembangkan teknologi pelestarian laut di Indonesia. Startup tersebut ialah Havoc dari Amerika Serikat dan blueOASIS dari Portugal.

Keduanya terpilih dalam program Global Ocean Innovation Challenge. Organisasi konservasi The Nature Conservancy menggagas program tersebut bersama Newlab.

Indonesia menjadi lokasi uji coba pertama program itu. Fokus utama program berada di Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur.

Wilayah tersebut termasuk kawasan Segitiga Karang Dunia. Selain itu, Laut Sawu menjadi jalur migrasi penting mamalia laut.

Karena itu, kawasan tersebut membutuhkan sistem pemantauan yang lebih kuat dan berkelanjutan.

“Baca Juga: Starship V3 Siap Jadi Roket Terkuat untuk Misi Bulan“

Havoc Kembangkan Kapal Pemantau Tanpa Awak

Havoc menghadirkan kapal permukaan tanpa awak untuk memantau kawasan laut. Teknologi itu memungkinkan pemantauan berlangsung terus-menerus.

Kapal tersebut membantu memperluas jangkauan pengawasan laut. Selain itu, teknologi itu mengurangi biaya patroli konvensional.

Havoc juga membantu mengurangi risiko bagi petugas lapangan. Karena itu, pemantauan kawasan konservasi menjadi lebih aman dan efisien.

blueOASIS Gunakan AI untuk Pantau Mamalia Laut

blueOASIS menghadirkan stasiun pemantauan suara bawah laut bertenaga surya. Teknologi tersebut menggunakan kecerdasan buatan atau AI.

Sistem itu mampu mendeteksi mamalia laut secara langsung. Teknologi tersebut juga memantau aktivitas laut lain secara real time.

blueOASIS menilai sistem itu cocok untuk kawasan terpencil. Selain itu, teknologi tersebut membantu pengawasan wilayah laut yang sulit dijangkau.

Startup Terpilih Dapat Dana dan Dukungan Teknis

Program Global Ocean Innovation Challenge memilih tiga startup dari lebih 60 peserta. Peserta berasal dari 24 negara berbeda.

Selain Havoc dan blueOASIS, program itu juga memilih Blurgs.AI dari India.

Blurgs.AI mengembangkan platform data berbasis AI untuk sektor perikanan Pasifik. Platform itu membantu pengelolaan perikanan skala besar secara lebih cepat.

Ketiga startup menerima total dana hibah sebesar 200 ribu dolar AS. Selain itu, mereka mendapat dukungan teknis dan akses investor.

YKAN dan KKP Dukung Inovasi Pemantauan Laut

Havoc dan blueOASIS akan memulai uji coba pada Juni mendatang. Kedua startup bekerja sama dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara atau YKAN.

Mereka juga melibatkan pemerintah dan masyarakat lokal selama uji coba berlangsung. Karena itu, program diharapkan memberi dampak langsung bagi wilayah sekitar.

Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman, berharap teknologi itu memperkuat pengelolaan kawasan konservasi.

Sementara itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan mendukung penuh program tersebut. Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Miftahul Huda, menilai Indonesia membutuhkan inovasi pemantauan laut.

Menurut Huda, wilayah laut Indonesia sangat luas dan banyak daerah terpencil. Karena itu, teknologi baru sangat membantu pengawasan kawasan perairan.

TNC dan Newlab Dorong Aksi Konservasi Global

Chief Executive Officer TNC, Jennifer Morris, menyebut program itu sebagai bentuk kerja sama global.

TNC ingin menghadirkan inovasi yang memberi dampak jangka panjang bagi ekosistem laut dan masyarakat pesisir.

Selain itu, Chief Product Officer Newlab, Garrett Winther, menegaskan dukungan terhadap startup teknologi kelautan.

Newlab ingin membantu startup menghadapi tantangan besar dalam menjaga kelestarian laut dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *